Riyadhul Badiah - Penutup

Riyadhul Badiah - Bab Mandi

 


بَابُ الْغُسْلِ

Pasal tentang Mandi

 

Kewajiban Mandi

لَا يَجِبُ الْغُسْلُ عَلَى الْحَيِّ إِلَّا بِالْجَنَابَةِ أَوِ الْوِلَادَةِ وَلَوْ مِنْ غَيْرِ بَلَلٍ أَوِ انْقِطَاعِ الْحَيْضِ أَوِ النِّفَاسِ، وَتَحْصُلُ الْجَنَابَةُ إِمَّا بِدُخُولِ الْحَشْفَةِ أَوْ مِقْدَارِهَا فِي قُبُلٍ أَوْ دُبُرٍ وَلَوْ لِبَهِيمَةٍ وَإِنْ لَمْ يَحْصُلْ إِنْزَالٌ، وَإِمَّا بِنُزُولِ الْمَنِيِّ وَلَوْ بِغَيْرِ إِيلَاجٍ كَالْحَاصِلِ فِي النَّوْمِ.

Tidak wajib mandi (ghusl) bagi orang yang hidup, kecuali karena junub (berhubungan badan) atau melahirkan, walaupun tanpa mengeluarkan air atau berhenti dari haid (menstruasi) atau nifas (darah setelah melahirkan).

Junub terjadi dengan memasukkan kepala zakar (alat kelamin laki-laki) atau seukurannya ke dalam vagina atau dubur, meskipun dengan binatang, walaupun tidak terjadi keluar mani. Atau dengan keluarnya mani, meskipun tanpa memasukkan (alat kelamin), seperti yang terjadi saat tidur.

 

Fardhu Mandi

وَلَهُ فَرْضَانِ لَا يَصِحُّ إِلَّا بِهِمَا:

(الْأَوَّلُ): النِّيَّةُ مُقَرُّونَةً بِأَوَّلِ جُزْءٍ يَغْسِلُهُ مِنْ جَسَدِهِ وَيَنْوِي الْمُغْتَسِلُ رَفْعَ الْحَدَثِ أَوْ فَرْضَ الْغُسْلِ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ.

Ada dua fardhu (rukun) dalam mandi junub yang harus dipenuhi agar sah:

Pertama, niat yang diiringi dengan membasuh bagian pertama dari anggota tubuhnya, dengan niat menghilangkan hadats besar (junub) atau menunaikan kewajiban mandi, atau semisalnya.

 

(وَالثَّانِي) تَعْمِيمُ جَسَدِهِ ظَاهِرًا فَقَطْ وَشَعْرِهِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا بِالْمَاءِ مَرَّةً وَاحِدَةً،

Kedua, menyiramkan air ke seluruh anggota tubuh bagian luar, serta rambut, baik luar maupun dalam, dengan sekali siraman.

 

وَيَجِبُ عَلَى الْمُغْتَسِلِ أَنْ يَتَعَصَّرَ حَتَّى تَنْفَتِحَ حَلْقَةُ دَبْرِهِ وَيَغْسِلَهَا عَنِ الْحَدَثِ، وَعَلَى الْأُنْثَى أَنْ تَغْسِلَ مَا يَظْهَرُ مِنْهَا عِنْدَ قُعُودِهَا عَلَى قَدَمَيْهَا أَيْضًا فَإِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ مِنْ ظَاهِرِ الْجَسَدِ،

Wajib bagi orang yang mandi junub untuk memijit-mijit hingga lubang dubur terbuka, lalu membasuhnya dari hadats. Bagi perempuan, ia wajib membasuh apa yang tampak darinya ketika duduk bersila, karena itu semua adalah bagian luar tubuh.

 

فَلَوْ تَرَكَ فِي الْغُسْلِ وَلَوْ نَسْيَانًا لَمْ يَصِحَّ الْغُسْلُ وَإِلَّا فَأَفْضَلُ أَنْ يَغْسِلَ هَذَيْنِ الْمَحَلَّيْنِ قَبْلَ جَسَدِهِ بِنِيَّةٍ تَخُصُّهُمَا غَيْرَ النِّيَّةِ عَلَى بَقِيَّةِ الْجَسَدِ.

Jika ia meninggalkan membasuh salah satu bagian tersebut, walaupun karena lupa, maka mandinya tidak sah. Namun yang lebih utama adalah membasuh kedua tempat tersebut (dubur dan bagian perempuan) terlebih dahulu, sebelum membasuh seluruh tubuh, dengan niat yang khusus untuk keduanya, tidak bersamaan dengan niat untuk seluruh tubuh.

 

Kesunahan dalam Mandi

(وَسُنَنُ الْغُسْلِ) كَثِيرَةٌ مِنْهَا الْوُضُوءُ كَامِلًا قَبْلَهُ وَدَلْكُ أَعْضَائِهِ وَالِابْتِدَاءُ بِالشَّقِّ الْأَيْمَنِ مِنْ جَسَدِهِ وَتَعْمِيمُ جَسَدِهِ بِالْمَاءِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَاسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ حَالَ غُسْلِهِ.

Dan sunnah-sunnah mandi (ghusl) sangat banyak, di antaranya:

1.    Berwudhu secara sempurna terlebih dahulu

2.    Menggosok anggota tubuh

3.    Memulai dari sisi kanan tubuhnya

4.    Menyiramkan air ke seluruh tubuh tiga kali

5.    Menghadap kiblat ketika mandi

Keharaman sebab Istinja’

(وَيُحْرَمُ) بِالْجَنَابَةِ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ وَالْمَكْثُ فِي الْمَسْجِدِ وَالْمُحَرَّمَاتُ بِالْحَدَثِ الْأَصْغَرِ.

Yang diharamkan bagi orang yang junub (berhubungan badan) adalah:

1.    Membaca Al-Qur'an

2.    Tinggal di dalam masjid

3.    Hal-hal yang diharamkan bagi orang yang berhadas kecil (wudhu).


DAFTAR ISI TERJEMAH RIYADHUL BADIAH

Komentar