Riyadhul Badiah - Penutup

Riyadhul Badiah - Bab Rukun Haji

 


بَابُ أَرْكَانُ الْحَجِّ

Bab Rukun Haji

 

Rukun Haji

أَرْكَانُ الْحَجِّ سِتَّةٌ: نِيَّةُ الْإِحْرَامِ بِهِ وَالْوُقُوفُ بِعَرَفَةَ وَطَوَافُ الْإِفَاضَةِ وَالسَّعْيُ وَالْحَلْقُ أَوِ التَّقْصِيرُ وَتَرْتِيبُ مَعْظَمِ الْأَرْكَانِ. وَهَذِهِ الْأَرْكَانُ السِّتَّةُ أَرْكَانٌ لِلْعُمْرَةِ إِلَّا الْوُقُوفُ بِعَرَفَةَ، وَيَجِبُ فِيهَا تَرْتِيبُ جَمِيعِ أَرْكَانِهَا.

Rukun-rukun haji ada enam, yaitu: niat ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadhah, sa'i, tahallul (bercukur atau memotong rambut), dan tertib (mengerjakan rukun-rukun haji secara berurutan). Dan keenam rukun ini juga merupakan rukun-rukun umrah, kecuali wukuf di Arafah. Dan wajib dalam umrah adalah tertib seluruh rukunnya.

 

Wajib Haji

وَوَاجِبَاتُهُ خَمْسَةٌ: الْإِحْرَامُ مِنَ الْمِيقَاتِ وَالْمَبِيتُ بِمُزْدَلِفَةَ وَالْمَبِيتُ بِمِنًى لَيَالِي التَّشْرِيقِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَتَرْكُ مُحَرَّمَاتِ الْإِحْرَامِ.

Adapun kewajiban-kewajiban haji ada lima, yaitu: ihram dari miqat, bermalam di Muzdalifah, bermalam di Mina pada malam-malam Tasyrik, melontar Jumrah, dan meninggalkan larangan-larangan ihram.

 

Wajib Umroh

(وَلِلْعُمْرَةِ) وَاجِبَانِ فَقَطْ: الْإِحْرَامُ مِنَ الْمِيقَاتِ وَتَرْكُ مُحَرَّمَاتِ الْإِحْرَامِ وَمَا عَدَا هَذِهِ الْأَرْكَانِ وَالْوَاجِبَاتِ فَهُوَ سُنَنٌ، وَلَا يَخْرُجُ الشَّخْصُ مِنْ إِحْرَامِهِ حَتَّى يُتِمَّ الْأَرْكَانَ كُلَّهَا، فَلَوْ مَاتَ وَقَدْ بَقِيَ عَلَيْهِ شَعْرَةٌ مِنَ الْحَلْقِ لَمْ يَسْقُطِ الْفَرْضُ إِنْ كَانَ ذَلِكَ النُّسُكَ فَرْضًا،

Adapun untuk ibadah umrah, terdapat dua kewajiban saja, yaitu:

1.    Ihram dari miqat (tempat memulai ihram)

2.    Meninggalkan larangan-larangan ihram

Dan selain dari rukun-rukun dan wajib-wajib tersebut, merupakan sunnah-sunnah. Seseorang tidak boleh keluar dari ihramnya sebelum ia menyempurnakan seluruh rukun-rukun. Jika ia meninggal dunia dan masih tersisa sedikit rambut yang belum dicukur, maka kewajiban haji tidak gugur jika itu adalah rukun yang fardhu.

 

وَمَنْ تَرَكَ شَيْئًا مِنَ الْوَاجِبَاتِ وَلَوْ عَمْدًا فَنُسُكُهُ صَحِيحٌ وَيَلْزَمُهُ بِتَرْكِهِ دَمٌ وَلَا يَلْزَمُهُ شَيْءٌ بِتَرْكِ السُّنَنِ.

Dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu dari kewajiban-kewajiban, walaupun dengan sengaja, maka hajinya tetap sah, hanya saja ia wajib membayar dam (denda) atas meninggalkannya. Sedangkan jika ia meninggalkan sunnah-sunnah, maka tidak ada sesuatu yang wajib atasnya.

 

Kesunahan dalam Ihram

(فَصْلٌ): يُسَنُّ لِمُرِيدِ الْإِحْرَامِ أَنْ يَتَنَظَّفَ قَبْلَ الْإِحْرَامِ بِإِزَالَةِ الْأَوْسَاخِ وَالْأَظْفَارِ وَشَعْرِ الْإِبْطِ وَالْعَانَةِ وَيَغْتَسِلُ لِلْإِحْرَامِ وَيَتَطَيَّبُ فِي بَدَنِهِ فَقَطْ وَيَلْبَسُ إِزَارًا وَرِدَاءً أَبْيَضَيْنِ إِنْ كَانَ ذَكَرًا وَيُصَلِّي رَكْعَتَيِ الْإِحْرَامِ ثُمَّ يَنْوِي وَيُلَبِّي، وَيُسَنُّ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّلْبِيَةِ فِي دَوَامِ الْإِحْرَامِ.

[Pasal]: Disunnahkan bagi orang yang hendak berihram untuk membersihkan diri sebelum ihram dengan menghilangkan kotoran, memotong kuku, mencukur bulu ketiak dan kemaluan, dan mandi untuk ihram. Ia boleh memakai wewangian di tubuhnya saja, dan mengenakan sarung dan selendang yang putih jika laki-laki. Kemudian ia shalat dua rakaat ihram, lalu berniat dan membaca talbiyah. Dan disunnahkan banyak membaca talbiyah selama dalam ihram.

 

Wuquf di Arafah

(فَصْلٌ): وَوَقْتُ الْوُقُوفِ الزَّوَالُ مِنْ يَوْمِ تَاسِعِ الْحِجَّةِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْعَاشِرِ. وَالْوَاجِبُ فِيهِ حُضُورُ الْمُحْرِمِ بِأَرْضِ عَرَفَةَ لَحْظَةً مِنْ هَذَا الْوَقْتِ لَيْلًا أَوْ نَهَارًا، وَالْأَفْضَلُ الْحُضُورُ بِهَا نَهَارًا وَالْبَقَاءُ فِيهَا إِلَى الْغُرُوبِ. وَالسُّنَّةُ لِلْمُحْرِمِ أَنْ لَا يَشْتَغِلَ فِي دَوَامِ إِحْرَامِهِ إِلَّا بِمَا يُقَرِّبُهُ لِمَوْلَاهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَنْ يَصُونَ نَفْسَهُ حَتَّى عَنِ الْكَلَامِ الْمُبَاحِ الَّذِي لَيْسَ فِيهِ مَنْفَعَةٌ وَالْمُحَافَظَةُ عَلَى ذَلِكَ يَوْمَ عَرَفَةَ أَكْوَدُ.

[Pasal]: Waktu wukuf (berdiri) di Arafah adalah dari tengah hari tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 10. Yang wajib dalam wukuf adalah kehadiran orang yang berihram di tanah Arafah sekejap saja, baik di malam hari maupun siang hari. Yang lebih utama adalah hadir di siang hari dan tetap berada di sana hingga terbenam matahari. Sunnah bagi orang yang berihram adalah tidak disibukkan selama ihramnya kecuali dengan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, dan menjaga diri bahkan dari pembicaraan yang mubah yang tidak ada manfaatnya, dan menjaga hal itu lebih ditekankan pada hari Arafah.

 

Syarat dan Kesunahan dalam Thawaf

(فَصْلٌ): وَشُرُوطُ الطَّوَافِ الطَّهَارَةُ وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ وَابْتِدَاؤُهُ بِالْحَجَرِ الْأَسْوَدِ وَمُحَاذَاةُ الْحَجَرِ بِالشَّقِّ الْأَيْسَرِ أَوَّلَ الطَّوَافِ وَآخِرَهُ، وَيَجْعَلُ الطَّائِفُ الْكَعْبَةَ عَلَى يَسَارِهِ مَعَ الْمَشْيِ تَلْقَاءَ وَجْهِهِ، وَيَكُونُ خَارِجًا بِجَمِيعِ بَدَنِهِ عَنْ جَمِيعِ الْبَيْتِ وَالشَّاذَرْوَانِ وَحَجَرِ إِسْمَاعِيلَ وَيَطُوفُ سَبْعًا يَقِينًا وَلَا يَقْصِدُ غَيْرَ الطَّوَافِ بِمَشْيِهِ، وَيَكُونُ الطَّوَافُ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَلَا تَجِبُ فِي الطَّوَافِ نِيَّةٌ إِلَّا إِذَا كَانَ لِغَيْرِ مَنَاسِكَ.

[Pasal]: Syarat-syarat tawaf adalah: suci dari hadas dan aurat, memulai dari Hajar Aswad (Batu Hitam), mensejajarkan Hajar Aswad pada sisi kiri di awal dan akhir tawaf, orang yang tawaf menjadikan Ka'bah di sebelah kirinya sambil berjalan menghadap depan, seluruh badannya keluar dari seluruh bangunan Ka'bah, Syadzarwan, dan Hatjar Isma'il, ia melakukan tawaf tujuh kali penuh, dan tidak bermaksud selain tawaf dengan jalannya, dan tawaf dilakukan di dalam Masjidil Haram. Dan tidak wajib niat dalam tawaf kecuali jika untuk selain manasik haji/umrah.

 

وَسُنَنُهُ كَثِيرَةٌ مِنْهَا اسْتِلَامُ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ وَتَقْبِيلُهُ، وَاسْتِلَامُ الرُّكْنِ الْيَمَانِيِّ وَالْمَشْيُ وَالْحَفَاءُ فِيهِ وَالرَّمَلُ وَالِاضْطِبَاعُ لِلذِّكْرِ إِذَا أَرَادَ السَّعْيَ بَعْدَهُ وَالدُّعَاءُ الْوَارِدُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ وَصَلَاةُ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ تَمَامِهِ وَتَجْزِئُ رَكْعَتَانِ بَعْدَ أَسَابِيعَ كَثِيرَةٍ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يُصَلِّيَ لِكُلِّ أُسْبُوعٍ رَكْعَتَيْنِ.

Sunah-sunahnya banyak, di antaranya: mencium dan menyentuh Hajar Aswad, menyentuh Rukn Yamani, berjalan biasa dan berlari-lari kecil (rimal) di beberapa tempat, ber-idhtibd' (mengangkat kain ke pundak) ketika hendak sa'i setelahnya, berdoa dengan doa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, shalat dua rakaat setelah selesai tawaf, dan yang terbaik adalah shalat dua rakaat setiap kali tujuh putaran.

 

Syarat dan Kesunahan dalam Sa’i

(فَصْلٌ): وَشُرُوطُ السَّعْيِ الِابْتِدَاءُ بِالصَّفَا وَالْخِتَامُ بِالْمَرْوَةِ، وَأَنْ يَقَعَ سَعْيُ الْعُمْرَةِ بَعْدَ طَوَافِهَا وَسَعْيُ الْحَجِّ بَعْدَ طَوَافِ الْقُدُومِ أَوِ الْإِفَاضَةِ وَالْأَفْضَلُ فَعْلُهُ بَعْدَ طَوَافِ الْقُدُومِ، وَأَنْ يَكُونَ الطَّوَافُ صَحِيحًا وَأَنْ يَسْعَى سَبْعًا يَقِينًا.

[Pasal]: Syarat-syarat sa'i (berlari-lari kecil) adalah: dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah, sa'i untuk umrah dilakukan setelah tawafnya, dan sa'i untuk haji dilakukan setelah tawaf qudum (tawaf kedatangan) atau tawaf ifadhah, dan yang lebih utama adalah setelah tawaf qudum. Disyaratkan juga agar tawaf yang dilakukan sah, dan ia harus melakukan sa'i tujuh kali.

 

وَسُنَنُهُ كَثِيرَةٌ: مِنْهَا الطَّهَارَةُ وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ وَالصُّعُودُ عَلَى دَرَجِ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَالْهَرْوَلَةُ بَيْنَ الْمِيلَيْنِ الْأَخْضَرَيْنِ لِلذُّكُورِ وَالدُّعَاءُ وَلِلذِّكْرِ الْوَارِدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ وَالْمُوَالَاةُ بَيْنَ مَرَّاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ الطَّوَافِ.

Sunah-sunahnya banyak, di antaranya: bersuci dan menutup aurat, naik ke atas bukit Shafa dan Marwah, berlari-lari kecil (sa'y) di antara dua tanda hijau (bagi laki-laki), berdoa, dan membaca dzikir yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Juga disunnahkan ada kesinambungan (muwālāh) antara putaran-putaran sa'i dan antara sa'i dan tawaf.

 

Kewajiban dan Kesunahan dalam Bertahallul

(فَصْلٌ): وَالْوَاجِبُ فِي الْحَلْقِ إِزَالَةُ ثَلَاثِ شَعَرَاتٍ مِنَ الرَّأْسِ بِأَيِّ كَيْفِيَّةٍ، وَالْأَفْضَلُ لِلذَّكَرِ أَنْ يَحْلِقَ رَأْسَهُ كُلَّهُ بِالْمُوسَى وَلِلْأُنْثَى أَنْ تَقْصُرَ مِنْ جَمِيعِ شَعْرِ رَأْسِهَا بِأَنْ تَجْمَعَهُ كُلَّهُ وَتَأْخُذَ مِنْ طَرَفِهِ قَدْرَ أُنْمُلَةٍ إِلَّا الذَّوَائِبَ،

[Pasal]: Yang wajib dalam bercelah (tahallul) adalah mencukur tiga helai rambut dari kepala dengan cara apa saja. Yang lebih utama bagi laki-laki adalah mencukur seluruh rambutnya dengan alat cukur, sedangkan bagi perempuan adalah memendekkan seluruh rambut kepalanya dengan cara mengumpulkannya lalu memotongnya sepanjang ujung jari kecuali rambut di pelipis.

 

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الشَّخْصُ الْقِبْلَةَ حَالَ الْحَلْقِ أَوِ التَّقْصِيرِ، وَيَأْتِي بِالتَّكْبِيرِ وَالدُّعَاءِ وَذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى.

Sunah-nya adalah menghadap kiblat saat bercelah (mencukur atau memotong), dan mengucapkan takbir, doa, dan zikir kepada Allah.

 

Urutan Prosesi Haji dan Umroh

(وَأَمَّا الْتَّرْتِيبُ) فَهُوَ أَنْ يَتَقَدَّمَ الْإِحْرَامُ عَلَى الْكُلِّ وَالْوُقُوفُ عَلَى الْحَلْقِ وَالطَّوَافِ، وَأَمَّا السَّعْيُ فَيَجُوزُ تَقْدِيمُهُ عَلَى الْوُقُوفِ إِنْ فَعَلَهُ بَعْدَ طَوَافِ الْقُدُومِ وَلَيْسَ بَيْنَ الْحَلْقِ وَالطَّوَافِ تَرْتِيبٌ.

Adapun urutannya adalah: ihram harus lebih dulu dari semua (rukun), kemudian wukuf, lalu tawaf, sedangkan sa'i boleh didahulukan dari wukuf jika dilakukan setelah tawaf qudum, dan tidak ada urutan antara tahallul (bercelah) dan tawaf.

 

Tata Cara Ihram

(فَصْلٌ): يَصِحُّ الْإِحْرَامُ بِالْعُمْرَةِ فِي أَيِّ وَقْتٍ كَانَ حَتَّى فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ، وَلَا يَصِحُّ الْإِحْرَامُ بِالْحَجِّ وَحْدَهُ وَلَا بِالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ مَعًا إِلَّا فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ وَهُوَ شَوَّالٌ وَذُو الْقَعْدَةِ وَعَشْرُ لَيَالٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، فَمَنْ أَحْرَمَ بِهِ قَبْلَ دُخُولِهَا أَوْ بَعْدَ خُرُوجِهَا انْعَقَدَ إِحْرَامُهُ عُمْرَةً،

(Pasal): Ihram untuk umrah dapat dilakukan kapan saja, bahkan di bulan-bulan haji. Namun, ihram untuk haji sendiri atau haji dan umrah bersamaan hanya sah dilakukan pada bulan-bulan haji, yaitu Syawal, Dzulqa'dah, dan sepuluh malam di awal Dzulhijjah. Jika seseorang berihram sebelum atau setelah bulan-bulan ini, maka ihramnya hanya sah untuk umrah.

 

وَمَنْ كَانَ بِمَكَّةَ وَأَرَادَ الْحَجَّ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُحْرِمَ بِهِ مِنْهَا قَبْلَ أَنْ يُفَارِقَ بِنِيَانِهَا، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يُحْرِمَ مِنْ بَابِ بَيْتِهِ أَوْ مِنْ حَجَرِ إِسْمَاعِيلَ، فَإِنْ أَرَادَ الْعُمْرَةَ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى أَطْرَافِ الْحِلِّ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَيُحْرِمَ مِنْهُ وَأَفْضَلُ بِقَاعِهِ الْجُعْرَانَةُ ثُمَّ التَّنْعِيمُ ثُمَّ الْحُدَيْبِيَّةُ،

Bagi orang yang berada di Mekah dan ingin melakukan haji, wajib baginya berihram dari sana sebelum meninggalkan daerah Mekah. Yang terbaik adalah berihram dari pintu rumahnya atau dari Hijr Ismail. Jika ingin melakukan umrah, dia harus keluar ke daerah halal di sekitar Mekah dan berihram dari sana. Tempat terbaik adalah Ja'ranah, lalu Tan'im, kemudian Al-Hudaibiyyah.

 

وَمَنْ جَاءَ مِنَ الْآفَاقِ وَجَبَ عَلَيْهِ الْإِحْرَامُ مِنَ الْمِيقَاتِ أَوِ الَّذِي يُحَاذِيهِ.

Bagi orang yang datang dari luar daerah, wajib baginya berihram dari miqat (tempat ihram yang ditentukan) atau dari tempat yang sejajar dengannya.

 

وَٱلْمَوَاقِيتُ ٱلشَّرْعِيَّةُ خَمْسَةٌ: ذُو ٱلْحُلَيْفَةِ وَٱلْجُحْفَةِ وَيَلْمَلَمَ وَقَرْنِ ٱلْمَنَازِلِ وَذَاتِ عِرْقٍ.

Ada lima miqat syar'i, yaitu Dzulhulaifah, Al-Juhfah, Yalamlam, Qarn Al-Manazil, dan Dzat 'Irq.

 

Mabit di Muzdalifah dan Mina

(فَصْلٌ): وَالْوَاجِبُ فِي مَبِيْتِ مُزْدَلِفَةَ الْحُضُوْرُ فِيْهَا لِحَظَةٍ مِنَ النِّصْفِ الثَّانِيْ مِنْ لَيْلَةِ النَّحْرِ بَعْدَ الْوُقُوْفِ، وَالسُّنَّةُ تَقْدِيْمُ النِّسَاءِ وَالضُّعَفَاءِ إِلَى مِنًى بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ الزُّحَامَةِ، وَأَنْ يَبِيْتَ الرِّجَالُ الْأَقْوِيَاءُ إِلَى الْفَجْرِ ثُمَّ يُصَلُّوْا الصُّبْحَ بِهَا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ تَكُوْنَ جَمَاعَةً وَمَعَ الْإِمَامِ ثُمَّ يَقِفُوْا عَلَى الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ أَوْ بِقُرْبِهِ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ مُشْتَغِلِيْنَ بِالِاسْتِغْفَارِ وَالدُّعَاءِ إِلَى زِيَادَةِ الْأَسْفَارِ، ثُمَّ يَتَوَجَّهُوْا قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ إِلَى مِنًى فَيَصِلُوْنَ إِلَيْهَا بَعْدَ طُلُوْعِهَا،

(Pasal): Wajib bagi jemaah haji untuk berada di Muzdalifah setidaknya sejenak pada pertengahan malam Hari Raya Kurban setelah wukuf. Sunnah adalah mendahulukan wanita dan orang-orang lemah untuk pergi ke Mina setelah tengah malam sebelum kerumunan, sementara laki-laki yang kuat bermalam di Muzdalifah hingga fajar dan salat Subuh di sana pada awal waktu. Yang lebih utama adalah berada dalam kelompok dan bersama imam, lalu berdiri di Masy'aril Haram atau dekatnya setelah salat Subuh, disibukkan dengan istighfar dan doa sampai menjelang terbitnya matahari, kemudian menuju Mina sebelum matahari terbit dan tiba di sana setelah matahari terbit.

 

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَأْخُذَ الْحُجَّاجُ مِنْ مُزْدَلِفَةَ سَبْعَ حَصَيَاتٍ لِرَمْيِ جِمْرَةِ الْعَقَبَةِ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَطْ وَيَأْخُذُوْا مِنْ مِنًى لِرَمْيِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ، وَيُكْرَهُ أَخْذُ الْجِمَارِ مِنَ الْحَلِّ أَوْ مِنْ مَحَلٍّ نَجِسٍ.

Sunnah bagi jemaah haji untuk mengambil tujuh kerikil dari Muzdalifah hanya untuk melempar Jumrah 'Aqabah pada Hari Raya Kurban, dan mengambil kerikil lainnya untuk melempar Jumrah di Hari-Hari Tasyrik dari Mina. Tidak disukai mengambil kerikil dari tempat yang najis atau di luar Miqat.

 

Melempar Jumroh

فَإِذَا وَصَلُوا مِنًى بَعْدَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ يَبْدَءُوْنَ بِرَمْيِ جِمْرَةِ الْعَقَبَةِ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ ثُمَّ يَذْبَحُوْنَ ضَحَايَاهُمْ أَوْ هَدَايَاهُمْ ثُمَّ يَحْلِقُوْنَ أَوْ يَقْصُرُوْنَ، وَبَعْدَ حَطِّ أَمْتِعَتِهِمْ وَاسْتِقْرَارِهِمْ بِمِنًى يَتَوَجَّهُوْنَ إِلَى مَكَّةَ فَيَطُوْفُوْنَ طَوَافَ الْإِفَاضَةِ ثُمَّ يَرْجِعُوْنَ إِلَى مِنًى فَيُصَلُّوْنَ الظُّهْرَ بِهَا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ وَيَبِيْتُوْنَ فِيْهَا لَيَالِيَ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ، وَهَذَا الْمَبِيْتُ وَاجِبٌ كَمَا سَبَقَ، وَأَقَلُّهُ الْحُضُوْرُ بِمِنًى مُعْظَمَ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ هَذِهِ اللَّيَالِي، وَالْأَفْضَلُ مَبِيْتُ كُلِّ لَيْلَةٍ بِتَمَامِهَا، وَيَسْقُطُ هَذَا الْمَبِيْتُ وَمَبِيْتُ مُزْدَلِفَةَ عَنِ الْمَعْذُوْرِيْنَ كَالرُّعَاةِ وَأَهْلِ السِّقَايَةِ.

Setelah tiba di Mina setelah matahari terbit, mereka memulai dengan melempar Jumrah 'Aqabah sebelum hal lain, lalu menyembelih kurban atau hadyu, kemudian bertahallul (mencukur atau memotong rambut). Setelah menurunkan barang-barang dan menetap di Mina, mereka menuju Mekah untuk melakukan tawaf ifadhah, lalu kembali ke Mina untuk salat Zuhur di awal waktu dan bermalam di sana selama malam-malam Hari Tasyrik. Bermalam di Mina ini hukumnya wajib, paling sedikit dengan kehadiran di Mina sebagian besar malam. Yang lebih utama adalah bermalam penuh setiap malamnya. Dispensasi dari bermalam di Muzdalifah dan Mina diberikan bagi orang-orang tertentu seperti penggembala dan petugas penyedia air.

 

Syarat-syarat dan Kesunahan Pelemparan Jumroh

(فَصْلٌ): شُرُوْطُ الرَّمْيِ أَنْ يَكُوْنَ بِالْيَدِ إِنْ قَدَرَ عَلَى الرَّمْيِ بِهَا وَأَنْ يَكُوْنَ بِالْحَجَرِ وَلَوْ يَاقُوْتَةً وَحَجَرِ حَدِيْدٍ وَأَنْ يُسَمَّى رَمْيًا وَأَنْ يَقْصِدَ بِهِ الْمَرْمَى وَإِنْ لَمْ يَقَعْ فِيْهِ لِقُوَّةِ الرَّمْيِ يَقِيْنًا، وَأَنْ يَكُوْنَ سَبْعَ رَمِيَاتٍ يَقِيْنًا إِلَى كُلِّ جِمْرَةٍ وَلَوْ بِحَصَاةٍ وَاحِدَةٍ، وَأَنْ يَبْدَأَ فِيْ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ بِالْجِمْرَةِ الَّتِيْ مِنْ جِهَةِ عَرَفَةَ ثُمَّ بِالْوُسْطَى وَيَخْتِمَ بِجِمْرَةِ الْعَقَبَةِ، وَأَنْ يَكُوْنَ بَعْدَ دُخُوْلِ وَقْتِ الرَّمْيِ، وَيَدْخُلُ وَقْتُ رَمْيِ جِمْرَةِ الْعَقَبَةِ يَوْمَ النَّحْرِ بِانْتِصَافِ لَيْلَتِهِ وَأَيَّامِ التَّشْرِيْقِ لَا يَدْخُلُ وَقْتُ رَمْيِهَا إِلَّا بِدُخُوْلِ وَقْتِ الظُّهْرِ، وَيَبْقَى وَقْتُ الرَّمْيِ كُلُّهُ أَدَاءً إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ، فَمَنْ فَاتَهُ رَمْيُ يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ أَتَى بِهِ فِيْ بَقِيَّتِهَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا، لَكِنَّهُ يُقَدِّمُ رَمْيَ الْيَوْمِ الْفَائِتِ عَلَى رَمْيِ الْحَاضِرِ.

(Pasal): Syarat-Syarat Pelemparan Jumrah

Syarat-syarat pelemparan jumrah adalah:

1.    Dilakukan dengan tangan, jika mampu melempar dengan tangan.

2.    Dapat menggunakan batu, meskipun batu permata atau batu besi.

3.    Harus disebut sebagai pelemparan.

4.    Berniat melempar ke arah tujuan, meskipun lemparan tidak mengenai sasaran karena kekuatan lemparan.

5.    Harus melakukan tujuh lemparan pasti ke setiap jumrah, meskipun hanya dengan satu batu.

6.    Memulai pada hari-hari Tasyrik dengan jumrah yang berada di arah Arafah, lalu jumrah tengah, dan diakhiri dengan jumrah Aqabah.

7.    Dilakukan setelah masuknya waktu pelemparan. Waktu pelemparan jumrah Aqabah pada Hari Raya Haji masuk pada pertengahan malam, sedangkan pada hari-hari Tasyrik masuk pada waktu Zuhur.

Waktu pelemparan seluruhnya berlangsung hingga terbenamnya matahari di akhir hari-hari Tasyrik. Jika tertinggal satu hari, dapat dilakukan di sisa hari tersebut baik siang maupun malam, namun mendahulukan pelemparan hari yang tertinggal daripada pelemparan hari itu.

Waktu berhaji (thawaf ifadha) dimulai pada pertengahan malam Hari Raya Haji dan berlanjut hingga akhir umur.

 

وَيَدْخُلُ وَقْتُ الْحَلْقِ وَطَوَافِ الْإِفَاضَةِ بِنِصْفِ لَيْلَةِ النَّحْرِ وَيَسْتَمِرُّ إِلَى آخِرِ الْعُمْرِ، وَيَدْخُلُ وَقْتُ ذَبْحِ الضَّحِيَّةِ وَالْهَدْيِ الَّذِي سَاقَهُ الْمُحْرِمُ بِالْحَجِّ إِلَى الْحَرَمِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ يَوْمَ النَّحْرِ وَمَضَى قَدْرُ صَلَاةِ الْعِيدِ وَخُطْبَتَيْهِ وَيَسْتَمِرُّ إِلَى آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ.

Waktu penyembelihan kurban dan hewan hadyu yang dibawa oleh orang yang berihram haji ke Haram dimulai saat matahari terbit pada Hari Raya Haji, setelah selesai shalat Ied dan khutbahnya, dan berlangsung hingga akhir hari-hari Tasyrik.

 

وَمِنْ سُنَنِ الرَّمْيِ أَنْ يَكُوْنَ بِالْيَدِ الْيُمْنَى، وَأَنْ يَكُوْنَ الْحَصَى قَدْرَ الْبَاقِلَاءِ وَأَنْ يَغْسِلَهُ، وَأَنْ يُكَبِّرَ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَأَنْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ حَالَ الرَّمْيِ فِيْ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ، وَأَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ تَعَالَى مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ بَعْدَ رَمْيِ الْجِمْرَةِ الْأُوْلَى وَالثَّانِيَةِ.

Adapun sunnah-sunnah pelemparan jumrah di antaranya adalah:

1.    Melempar dengan tangan kanan.

2.    Ukuran batu kira-kira sebesar kacang.

3.    Mencuci batu-batu tersebut.

4.    Bertakbir pada setiap lemparan.

5.    Menghadap kiblat saat melempar pada hari-hari Tasyrik.

6.    Berdoa kepada Allah setelah melempar jumrah pertama dan kedua.

 

Thawaf Wada' (Thawaf Perpisahan)

(فَصْلٌ): طَوَافُ الْوَدَاعِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مَنْ سَافَرَ مِنْ مَكَّةَ إِلَى وَطَنِهِ أَوْ إِلَى مَسَافَةِ الْقَصْرِ أَوْ إِلَى مَحَلٍّ يُرِيْدُ أَنْ يُقِيْمَ فِيْهِ أَرْبَعَةَ أَيَّامٍ صِحَاحٍ، وَيَجِبُ بِتَرْكِهِ دَمٌ عَلَى غَيْرِ الْمَعْذُوْرِ، وَيَجِبُ السَّفَرُ عَقِبَهُ فَوْرًا، فَإِنْ تَأَخَّرَ بَعْدَهُ زَمَانًا يَسَعُ رَكْعَتَيْنِ بَطَلَ وَدَاعُهُ إِلَّا إِنْ تَأَخَّرَ لِدُعَاءٍ بَعْدَ رَكْعَتَيْهِ وَعِنْدَ شُرْبِ زَمْزَمَ وَفِي الْمُلْتَزَمِ أَوْ تَأَخَّرَ لِشُغْلِ السَّفَرِ كَشِرَاءِ الزَّادِ وَشَدِّ الرِّحَالِ فَلَا يَبْطُلُ وَإِنْ طَالَ تَأَخُّرُهُ لِذَلِكَ، وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا لَوْ قَامَتْ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ بِالْفِعْلِ بَعْدَ فَرَاغِهِ فَصَلَّى مَعَهُمْ وَانْصَرَفَ فَوْرًا.

(Pasal): Thawaf Wada' (thawaf perpisahan) wajib bagi setiap orang yang bepergian dari Mekah menuju kampung halamannya atau jarak perjalanan yang membolehkan shalat qasar, atau menuju tempat yang ia ingin tinggal selama empat hari penuh. Meninggalkannya tanpa uzur wajib disertai dam (denda). Setelah melakukan thawaf wada', ia wajib segera bepergian. Jika ia menunda kepergiannya setelah itu selama cukup untuk dua rakaat shalat, maka thawaf wadanya batal, kecuali jika ia menundanya untuk berdoa setelah dua rakaat, atau untuk minum air zamzam, atau di tempat Al-Multazam, atau menundanya untuk keperluan perjalanan seperti membeli bekal dan mengikat barang bawaan. Jika penundaannya lama karena hal tersebut, maka thawaf wadanya tidak batal. Demikian juga jika ia mengikuti shalat berjamaah setelah selesai thawaf dan langsung pergi.

 

وَالسُّنَّةُ بَعْدَ رَكْعَتَيْهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُلْتَزَمَ وَيُلَاصِقَ بِهِ بَطْنَهُ وَصَدْرَهُ وَيَبْسُطَ يَدَيْهِ عَلَيْهِ وَيَضَعَ خَدَّهُ الْأَيْمَنَ أَوْ جَبْهَتَهُ عَلَيْهِ وَيَدْعُوَ بِمَا أَحَبَّ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُوْنَ بِالْوَارِدِ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَشْرَبَ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ وَيَتَضَلَّعَ مِنْهُ ثُمَّ يَعُوْدَ إِلَى الْحَجَرِ فَيَسْتَلِمَهُ وَيُقَبِّلَهُ وَيَسْجُدَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا ثُمَّ يَنْصَرِفَ تَلْقَاءَ وَجْهِهِ مُسْتَدْبِرًا الْبَيْتَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْمَسْجِدِ لَا عَلَى ظَهْرِهِ وَيَخْرُجُ مِنْ بَابِ الْوَدَاعِ، وَيُكْرَهُ أَنْ يَقِفَ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ عِنْدَ خُرُوْجِهِ.

Sunnah setelah dua rakaat thawaf wada' adalah mendatangi Al-Multazam, menempelkan perut dan dada ke sana, meletakkan kedua tangannya di atasnya, meletakkan pipi kanan atau dahinya di atasnya, dan berdoa apa yang ia sukai. Yang paling utama adalah berdoa dengan do'a yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian ia minum air zamzam dengan rakus, lalu kembali ke Hajar Aswad, menyentuh dan menciumnya, serta sujud tiga kali di atasnya. Setelah itu, ia keluar dari masjid menghadap ke depan, tidak membelakangi Baitullah, dan keluar melalui Pintu Wada'. Dimakruhkan baginya berdiri di pintu masjid saat keluar.

 

Keharaman dalam Ihram

(فَصْلٌ): وَالْمُحَرَّمَاتُ بِالْإِحْرَامِ سَبْعَةٌ:

(الأَوَّلُ) اللِّبَاسُ عَمْدًا فَيَحْرُمُ عَلَى الذَّكَرِ سَتْرُ رَأْسِهِ وَلِبَاسُ الْمَخِيْطِ فِي أَيِّ عُضْوٍ مِنْ أَعْضَائِهِ، وَيَحْرُمُ عَلَى الأُنْثَى سَتْرُ وَجْهِهَا وَلِبَاسُ الْقُفَّازِ فِي يَدِهَا وَتَجِبُ بِهِ الْفِدْيَةُ.

(Pasal): Dan hal-hal yang diharamkan dengan ihram ada tujuh:

(Pertama) Berpakaian dengan sengaja, maka haram bagi laki-laki menutupi kepalanya dan memakai pakaian yang dijahit di anggota tubuhnya. Dan haram bagi perempuan menutupi wajahnya dan memakai sarung tangan di tangannya, dan wajib membayar tebusan (fidyah) karenanya.

 

(الثَّانِي) الدَّهْنُ لِشَيْءٍ مِنْ شَعَرِ الرَّأْسِ أَوْ مِنْ شُعُوْرِ الْوَجْهِ عَمْدًا وَلَوْ رَأْسَ شَعْرَةٍ وَاحِدَةٍ بِأَيِّ دَهْنٍ وَتَجِبُ بِهِ الْفِدْيَةُ أَيْضًا.

(الثَّالِثُ) التَّطَيُّبُ عَمْدًا فِي أَيِّ جُزْءٍ مِنْ ظَاهِرِ الْبَدَنِ أَوْ بَاطِنِهِ أَوْ فِي شَيْءٍ مِنَ الْمَلْبُوْسِ بِأَيِّ نَوْعٍ مِنَ الأَنْوَاعِ الَّتِي يُقْصَدُ مِنْهَا غَالِبًا رَائِحَتُهَا الطَّيِّبَةُ كَالْمِسْكِ وَالزَّعْفَرَانِ وَالْوَرْدِ وَتَجِبُ بِهِ الْفِدْيَةُ أَيْضًا.

(Kedua) Memakai minyak dengan sengaja pada sesuatu dari rambut kepala atau rambut wajah, meskipun hanya satu helai rambut, dengan minyak apa pun, dan wajib membayar tebusan (fidyah) karenanya juga.

(Ketiga) Memakai wewangian dengan sengaja di bagian manapun dari luar atau dalam tubuh, atau pada sesuatu yang dipakai, dengan jenis apa pun yang umumnya dimaksudkan baunya yang harum, seperti minyak kesturi, saffron, dan mawar, dan wajib membayar tebusan (fidyah) karenanya juga.

 

(الرَّابِعُ) الْجِمَاعُ وَمُقَدِّمَاتُهُ كَاللَّمْسِ وَالتَّقْبِيْلِ وَالْمُعَانَقَةِ، وَيَحْرُمُ الْجِمَاعُ وَلَوْ بِغَيْرِ إِنْزَالٍ، وَيُفْسِدُ الْحَجَّ بِهِ قَبْلَ التَّحَلُّلِ الأَوَّلِ وَالْعُمْرَةَ قَبْلَ فَرَاغِ أَعْمَالِهَا وَتَجِبُ بِالْجِمَاعِ الْمُفْسِدِ بَدَنَةٌ، فَإِنْ عَجَزَ عَنْهَا فَبَقَرَةٌ، فَإِنْ عَجَزَ عَنْهَا فَسَبْعُ مِنَ الْغَنَمِ، فَإِنْ عَجَزَ قَوَّمَ الْبَدَنَةَ بِسِعْرِ مَكَّةَ وَأَخْرَجَ طَعَامًا بِقِيْمَتِهَا، فَإِنْ عَجَزَ صَامَ عَنْ كُلِّ مَدٍّ يَوْمًا، وَلَا تَجِبُ فِدْيَةٌ بِالْمُقَدِّمَاتِ إِلَّا الْمُبَاشَرَةُ بِشَهْوَةٍ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ وَفِدْيَتُهَا وَفِدْيَةُ الْجِمَاعِ غَيْرِ الْمُفْسِدِ شَاةٌ مُخَيَّرَةٌ كَمَا سَيَأْتِي.

(Keempat) Hubungan seksual dan hal-hal yang mengawalinya, seperti menyentuh, mencium, dan berpelukan. Dan haram melakukan hubungan seksual walaupun tanpa ejakulasi. Hal ini membatalkan haji sebelum tahallul pertama dan umrah sebelum selesai pelaksanaannya. Dan wajib membayar seekor unta bagi yang melakukan hubungan seksual yang membatalkan. Jika tidak mampu, maka seekor sapi. Jika tidak mampu, maka tujuh ekor kambing. Jika tidak mampu, maka harus menghitung harga seekor unta dan membayar makanan sebesar nilai tersebut. Jika tidak mampu, maka harus berpuasa satu hari untuk setiap mud (ukuran takaran). Namun tidak wajib denda (fidyah) bagi hal-hal yang mengawali hubungan seksual, kecuali menyentuh dengan syahwat tanpa penghalang, dan dendanya adalah seekor kambing yang boleh dipilih, sebagaimana akan dijelaskan.

 

(الْخَامِسُ) عَقْدُ النِّكَاحِ فَيَحْرُمُ نِكَاحُ الْمُحْرِمِ وَلَا يَنْعَقِدُ لِنَفْسِهِ وَلَا لِغَيْرِهِ لَا بِالْوَكَالَةِ وَلَا بِالْوِلَايَةِ وَلَوْ كَانَتْ عَامَّةً.

(السَّادِسُ) إِزَالَةُ شَيْءٍ مِنَ الشَّعَرِ أَوْ مِنَ الأَظْفَارِ بِأَيِّ طَرِيْقٍ مِنْ طُرُقِ الْإِزَالَةِ، وَتَجِبُ بِكُلٍّ مِنْهُمَا فِدْيَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ وَلَوْ مَعَ النِّسْيَانِ، وَلَا تَجِبُ الْفِدْيَةُ الْكَامِلَةُ إِلَّا فِي ثَلَاثِ شَعَرَاتٍ أَوْ ثَلَاثَةِ أَظْفَارٍ فِي زَمَانٍ وَمَكَانٍ وَاحِدٍ، فَإِنْ تَعَدَّدَ الزَّمَانُ أَوِ الْمَكَانُ وَجَبَ فِي كُلِّ شَعْرَةٍ وَكُلِّ ظُفْرٍ مَدٌّ طَعَامٍ وَلَوْ كَثُرَتِ الشُّعُوْرُ وَالأَظْفَارُ.

(Kelima) Melakukan akad pernikahan. Maka haram bagi orang yang sedang ihram untuk menikah, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, baik dengan wakalah (perwakilan) maupun dengan wila'yah (perwalian), walaupun bersifat umum.

(Keenam) Menghilangkan sesuatu dari rambut atau kuku dengan cara apa pun. Dan wajib membayar tebusan (fidyah) yang terpisah untuk masing-masing, bahkan jika dilakukan tanpa sengaja. Namun fidyah penuh hanya wajib untuk tiga helai rambut atau tiga kuku dalam satu waktu dan tempat. Jika berbeda waktu atau tempat, maka wajib membayar satu mud makanan untuk setiap helai rambut dan setiap kuku, meskipun banyak rambut dan kuku.

 

(السَّابِعُ) التَّعَرُّضُ لِشَيْءٍ مِنْ صَيْدِ الْبَرِّ الْوَحْشِيَّةِ الْمَأْكُولَةِ وَلَوْ خَارِجَ أَرْضِ الْحَرَمِ وَلَا يَجِبُ الْجَزَاءُ فِيْهَا إِلَّا بِالْإِتْلَافِ وَلَوْ مَعَ النِّسْيَانِ وَتَجِبُ الْمُمَاثَلَةُ فِي ضَمَانِهَا فَلَا تَجْزِئُ الْبَدَنَةُ عَنِ الَّذِي وَجَبَتْ فِيْهِ شَاةٌ.

(Ketujuh) Mengganggu sesuatu dari binatang buruan liar yang dapat dimakan, meskipun di luar tanah Haram. Tidak wajib denda (jazaa') padanya kecuali jika merusaknya, bahkan jika dilakukan tanpa sengaja. Dan wajib membayar ganti yang serupa dalam tanggungannya, maka tidak cukup membayar seekor unta bagi yang wajib membayar seekor kambing.

 

(وَيَحْرُمُ) عَلَى الْحَلَالِ صَيْدُ حَرَمِ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ وَوَجْهِ الطَّائِفِ وَكَذَلِكَ شَجَرُهَا مُطْلَقًا وَنَبَاتُهَا الَّذِي مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَنْبُتَ بِنَفْسِهِ وَلَا جَزَاءَ لِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا فِي حَرَمِ مَكَّةَ خَاصَّةً، وَلَا يَدْخُلُ جَزَاءُ الشُّعُوْرِ فِي جَزَاءِ الأَظَافِيْرِ، وَلَا جَزَاءُ الصَّيْدِ فِي جَزَاءِ الشَّجَرِ وَالنَّبَاتِ وَلَا الْعَكْسُ.

(Dan haram) bagi orang yang tidak ihram untuk berburu di Tanah Haram Mekah, Madinah, dan Thaif, begitu juga untuk menebang pohonnya secara mutlak, dan untuk tumbuhan yang tumbuh sendiri. Tidak ada denda (jazaa') untuk hal itu kecuali di Tanah Haram Mekah saja. Dan denda atas rambut tidak termasuk dalam denda atas kuku, dan denda atas binatang buruan tidak termasuk dalam denda atas pohon dan tumbuhan, begitu juga sebaliknya.

 

(وَيَحْرُمُ) نَقْلُ شَيْءٍ مِنْ تُرَابِ الْحَرَمِ وَأَحْجَارِهِ وَلَوْ لِلتَّبَرُّكِ وَإِنْ نَقَلَهُ لِحَرَمٍ آخَرَ وَيَجِبُ رَدُّهُ لِمَحَلِّهِ، وَيُكْرَهُ نَقْلُ ذَلِكَ مِنَ الْحَلِّ إِلَى الْحَرَمِ.

(Dan haram) membawa sesuatu dari tanah atau batu Tanah Haram, meskipun untuk berkah, dan jika dibawa ke Tanah Haram lain maka wajib mengembalikannya ke tempatnya semula. Dan makruh membawa hal itu dari luar Tanah Haram ke dalam Tanah Haram.

 

(وَلَا يَحِلُّ) لأَحَدٍ أَنْ يَتَمَلَّكَ لُقَطَةَ حَرَمِ مَكَّةَ أَبَدًا وَلَوْ كَانَتْ حَقِيْرَةً بَلْ يَحْفَظُهَا إِلَى وُجُوْدِ صَاحِبِهَا وَلُقَطَةُ عَرَفَةَ وَحَرَمِ الْمَدِيْنَةِ كَلُقَطَةِ غَيْرِهِمَا مِنْ بَقِيَّةِ الْبِقَاعِ.

(Dan tidak halal) bagi siapapun untuk memiliki barang temuan di Tanah Haram Mekah untuk selamanya, meskipun remeh, melainkan harus dijaga sampai pemiliknya ditemukan. Dan barang temuan di Arafah dan Tanah Haram Madinah sama hukumnya dengan barang temuan di tempat lain.

 

(وَإِذَا كَانَ) لِلصَّيْدِ مِثْلٌ مِنَ الأَنْعَامِ كَالنَّعَامِ وَبَقَرِ الْوَحْشِ وَالْحَمَامِ فَالْوَاجِبُ فِيْهِ إِمَّا ذَبْحُ مِثْلِهِ وَتَفْرِقَتُهُ، وَإِمَّا إِخْرَاجُ طَعَامٍ بِقَدْرِ قِيْمَتِهِ، وَإِمَّا صِيَامُ يَوْمٍ عَنْ كُلِّ مَدٍّ. وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مِثْلٌ كَالْعَصَافِيْرِ فَالْوَاجِبُ فِيْهِ إِمَّا إِخْرَاجُ طَعَامٍ بِقِيْمَتِهِ وَإِمَّا صِيَامُ يَوْمٍ عَنْ كُلِّ مَدٍّ.

(Dan jika) buruan itu memiliki imitasi dari hewan ternak, seperti unta burung, sapi liar, dan merpati, maka wajib atasnya menyembelih imitasinya dan menyebarkannya, atau mengeluarkan makanan senilai dengannya, atau berpuasa satu hari per mud. Dan jika tidak memiliki imitasi, seperti burung-burung kecil, maka wajib atasnya mengeluarkan makanan senilai dengannya atau berpuasa satu hari per mud.

 

وَهَذِهِ الْمَحْرُمَاتُ كُلُّهَا تَحِلُّ لِلْمُحْرِمِ بَعْدَ التَّحَلُّلِ الأَوَّلِ إِلَّا الْجِمَاعُ وَمُقَدِّمَاتُهُ وَعَقْدُ النِّكَاحِ فَلَا تَحِلُّ إِلَّا بَعْدَ التَّحَلُّلِ الثَّانِي.

Dan semua yang diharamkan ini menjadi halal bagi orang yang sedang ihram setelah tahallul (keluar dari ihram) pertama, kecuali hubungan seksual beserta hal-hal yang mengawalinya, dan akad pernikahan, yang tidak halal kecuali setelah tahallul kedua.

 

Orang Ihram terhalang Menyempurnakan Rukun

(فَصْلٌ): وَإِذَا مُنِعَ الْمُحْرِمُ مِنْ إِتْمَامِ أَرْكَانِ النُّسُكِ الَّذِي أَحْرَمَ بِهِ جَازَ لَهُ أَنْ يَتَحَلَّلَ فَيَذْبَحَ شَاةً وَيَنْوِي التَّحَلُّلَ عِنْدَ ذَبْحِهَا ثُمَّ يُزِيلُ ثَلَاثَ شَعَرَاتٍ مِنْ رَأْسِهِ وَيَنْوِي التَّحَلُّلَ عِنْدَ إِزَالَتِهَا. فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الذَّبْحِ أَخْرَجَ طَعَامًا بِقِيْمَةِ الشَّاةِ وَنَوَى التَّحَلُّلَ عِنْدَ إِخْرَاجِهِ، وَيُقَدَّمُ إِخْرَاجُ الطَّعَامِ عَلَى إِزَالَةِ الشَّعَرِ.

(Pasal): Jika orang yang sedang ihram terhalang untuk menyempurnakan rukun nusk (ibadah haji/umroh) yang ia berihram dengannya, maka dibolehkan baginya untuk bertahallul (keluar dari ihram). Ia menyembelih seekor domba dan berniat bertahallul pada saat menyembelihnya, kemudian ia mencukur tiga helai rambut dari kepalanya dan berniat bertahallul pada saat mencukurnya.

 

فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الطَّعَامِ صَامَ عَنْ كُلِّ مُدٍّ يَوْمًا وَتَحَلَّلَ بِإِزَالَةِ الشَّعَرِ مَعَ النِّيَّةِ.

Jika ia tidak mampu untuk memberi makan, maka ia harus berpuasa satu hari untuk setiap takaran (Mud) dan ia harus mengakhiri ihram dengan mencukur rambut dengan niat.

 

وَلَا يَتَوَقَّفُ التَّحَلُّلُ عَلَى الصِّيَامِ وَلَا يَلْزَمُهُ قَضَاءُ مَا تَحَلَّلَ مِنْهُ بَلْ يَبْقَى فِي ذِمَّتِهِ كَمَا كَانَ قَبْلَ الْإِحْرَامِ بِهِ. وَمَنْ طَلَعَ عَلَيْهِ الْفَجْرُ يَوْمَ النَّحْرِ وَهُوَ مُحْرِمٌ بِالْحَجِّ وَلَمْ يُدْرِكْ عَرَفَةَ فَقَدْ فَاتَهُ الْحَجُّ وَوَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَتَحَلَّلَ بِعَمَلِ عُمْرَةٍ وَيَلْزَمُهُ قَضَاءُ الْفَائِتِ فِي السَّنَةِ الْقَابِلَةِ وَيَلْزَمُهُ ذَبْحُ شَاةٍ فِي سَنَةِ الْقَضَاءِ.

Pengakhiran ihram tidak bergantung pada puasa, dan ia tidak wajib mengqadha apa yang telah rusak darinya, melainkan tetap menjadi tanggungannya seperti sebelum berihram. Dan barangsiapa yang terbit fajar padanya di hari Nahr (Idul Adha) sedangkan ia berihram untuk haji, namun ia tidak dapat menemukan Arafah, maka haji tersebut telah luput darinya dan ia wajib mengakhiri ihram dengan melakukan umrah, serta wajib baginya mengqadha haji pada tahun berikutnya, dan ia wajib menyembelih seekor domba pada tahun saat ia mengqadha.

 

Meninggalkan Kewajiban atau Melakukan Keharaman

(فَصْلٌ): وَمَنْ تَرَكَ شَيْئًا مِنَ الْوَاجِبَاتِ أَوْ فَعَلَ شَيْئًا مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ لَزِمَهُ دَمٌ. (وَالدِّمَاءُ) فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ أَرْبَعَةُ أَقْسَامٍ: مُرَتَّبٌ مُقَدَّرٌ، وَمُرَتَّبٌ مُعَدَّلٌ، وَمُخَيَّرٌ مُقَدَّرٌ، وَمُخَيَّرٌ مُعَدَّلٌ.

(Pasal): Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu dari kewajiban-kewajiban atau melakukan sesuatu dari yang diharamkan, maka wajib baginya dam (denda).

(Dan dam) dalam haji dan umrah ada empat jenis: muratab muqaddar (tetap dan ditentukan), muratab mu'addal (tetap dan dapat diganti), mukhayar muqaddar (pilihan dan ditentukan), dan mukhayar mu'addal (pilihan dan dapat diganti).

 

(فَالْمُرَتَّبُ) هُوَ الَّذِي لَا يَصِحُّ الِانْتِقَالُ عَنْهُ إِلَى بَدَلِهِ إِلَّا عِنْدَ الْعَجْزِ عَنْهُ. (وَالْمُخَيَّرُ) بِعَكْسِهِ. (وَالْمُعَدَّلُ) هُوَ الَّذِي يَنْتَقِلُ عَنْهُ إِلَى شَيْءٍ آخَرَ بِقِيْمَتِهِ. (وَالْمُقَدَّرُ) هُوَ الَّذِي يَنْتَقِلُ عَنْهُ إِلَى شَيْءٍ لَا يَزِيْدُ وَلَا يَنْقُصُ.

(Yang muratab) adalah yang tidak diperbolehkan beralih kepada penggantinya kecuali jika tidak mampu melakukannya. (Dan yang mukhayar) kebalikannya. (Dan yang mu'addal) adalah yang dapat beralih kepada sesuatu yang lain dengan nilai yang setara. (Dan yang muqaddar) adalah yang dapat beralih kepada sesuatu yang tidak lebih dan tidak kurang.

 

(وَأَسْبَابُ الْمُرَتَّبِ الْمُقَدَّرِ) تِسْعَةٌ: التَّمَتُّعُ وَالْقِرَانُ وَفَوَاتُ الْحَجِّ وَتَرْكُ الْإِحْرَامِ مِنَ الْمِيْقَاتِ وَتَرْكُ مَبِيْتِ مُزْدَلِفَةَ وَمَبِيْتِ مِنًى وَتَرْكُ رَمْيِ الْجِمَارِ وَتَرْكُ طَوَافِ الْوَدَاعِ، وَكُلُّ سُنَّةٍ فِي النُّسُكِ نَذَرَهَا الشَّخْصُ عَلَى نَفْسِهِ وَخَالَفَ نَذْرَهُ كَأَنْ نَذَرَ الْحَلْقَ فَقَصَّرَ أَوِ الْمَشْيَ فَرَكِبَ.

(وَفِي) كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ هَذِهِ التِّسْعَةِ شَاةٌ، فَإِنْ عَجَزَ عَنْهَا فَصَوْمُ عَشَرَةِ أَيَّامٍ ثَلَاثَةٌ فِي الْحَجِّ إِنْ أَمْكَنَ صَوْمُهَا فِيْهِ وَسَبْعَةٌ إِذَا رَجَعَ لِوَطَنِهِ.

(Dan sebab-sebab dari yang muratab muqaddar) ada sembilan: At-tamatu' (haji tamattu'), al-qiran (haji qiran), hilangnya haji, meninggalkan ihram dari miqat, meninggalkan bermalam di Muzdalifah dan Mina, meninggalkan melempar jumrah, meninggalkan tawaf wada', dan setiap sunah dalam ritual ibadah haji yang dinazarkan seseorang atas dirinya lalu ia menyalahi nazarnya, seperti menazar bercukur lalu hanya memotong, atau menazar berjalan lalu ia berkendaraan.

Dalam setiap satu dari sembilan hal ini ada seekor domba. Jika ia tidak mampu, maka ia wajib berpuasa sepuluh hari, tiga hari di masa haji jika memungkinkan, dan tujuh hari setelah kembali ke kampung halamannya.

 

(وَلِلْمُرَتَّبِ) الْمُعَدَّلِ سَبَبَانِ: الْجِمَاعُ الْمُفْسِدُ وَالْإِحْصَارُ وَهُوَ الْمَنْعُ مِنْ إِتْمَامِ أَرْكَانِ النُّسُكِ، وَقَدْ تَقَدَّمَ مَا يَجِبُ عِنْدَ الْعَجْزِ عَنِ الْبَدَنَةِ فِي الْجِمَاعِ وَعِنْدَ الْعَجْزِ عَنِ الشَّاةِ فِي الْإِحْصَارِ.

(Dan bagi yang muratab mu'addal) ada dua sebab: Hubungan intim yang membatalkan (ihram) dan ihshar (terhalang), yaitu dihalangi dari menyempurnakan rukun-rukun ibadah. Dan telah disebutkan sebelumnya apa yang wajib (dilakukan) ketika tidak mampu atas unta dalam hal hubungan intim, dan ketika tidak mampu atas domba dalam hal ihshar.

 

(وَأَسْبَابُ الْمُخَيَّرِ الْمُقَدَّرِ ثَمَانِيَةٌ) هِيَ: إِزَالَةُ الشَّعَرِ وَالأَظْفَارِ وَاللِّبَاسِ وَالدُّهْنِ وَالتَّطَيُّبِ وَمُقَدِّمَاتُ الْجِمَاعِ وَالْوَطْءُ بَيْنَ التَّحَلُّلَيْنِ وَبَعْدَ الْجِمَاعِ الْمُفْسِدِ وَقَبْلَ تَمَامِ الْمُفْسِدِ. (وَفِي كُلِّ وَاحِدٍ) مِنْ هَذِهِ الثَّمَانِيَةِ يَتَخَيَّرُ الشَّخْصُ بَيْنَ ذَبْحِ شَاةٍ أَوِ التَّصَدُّقِ بِثَلَاثَةِ صَاعِيْنَ عَلَى سِتَّةِ مَسَاكِيْنَ لِكُلِّ مِسْكِيْنٍ مِنْهُمْ نِصْفُ صَاعٍ أَوْ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ.

(Dan sebab-sebab dari yang mukhayar muqaddar ada delapan), yaitu: mencukur rambut, memotong kuku, memakai pakaian, memakai minyak, memakai wewangian, hal-hal yang mendahului hubungan intim, senggama di antara dua talbiyah, dan senggama setelah rusak (ihram) namun sebelum sempurna (kehilangan ihram). (Dan dalam setiap satu) dari delapan ini, orang tersebut diperbolehkan memilih antara menyembelih seekor domba, atau bersedekah tiga sha' kepada enam orang miskin, setengah sha' untuk setiap orang miskin, atau berpuasa selama tiga hari.

 

(وَلِلْمُخَيَّرِ الْمُعَدَّلِ) سَبَبَانِ فَقَطْ: إِتْلَافُ الصَّيْدِ وَالشَّجَرِ، وَقَدْ تَقَدَّمَ الْوَاجِبُ فِي الصَّيْدِ وَمِثْلُهُ الْوَاجِبُ فِي الشَّجَرِ. وَلَا يَصِحُّ ذَبْحُ هَذِهِ الدِّمَاءِ كُلِّهَا وَلَا تَفْرِقَتُهَا وَلَا تَفْرِقَةُ الطَّعَامِ بَدَلَهَا إِلَّا فِي الْحَرَمِ، وَيُسْتَثْنَى مِنْهَا دَمُ الْإِحْصَارِ فَيُذْبَحُ فِي مَكَانِ الْإِحْصَارِ وَيُفَرَّقُ هُوَ أَوْ بَدَلُهُ فِيْهِ، وَلَا يَصِحُّ نَقْلُهُ عَنْهُ إِلَّا إِلَى الْحَرَمِ.

(Dan bagi yang mukhayar mu'addal) hanya ada dua sebab: merusak binatang buruan dan merusak tumbuhan. Dan telah disebutkan sebelumnya apa yang wajib dalam hal binatang buruan, dan demikian pula yang wajib dalam hal tumbuhan. Dan tidak sah menyembelih seluruh dam (denda) ini, tidak pula membaginya, dan tidak pula membagi makanan sebagai gantinya, kecuali di area Haram. Dan dikecualikan dari itu adalah dam (denda) karena ihshar, maka disembelih di tempat ihshar dan dibagikan di sana, atau gantinya, dan tidak sah memindahkannya kecuali ke area Haram.


DAFTAR ISI TERJEMAH RIYADHUL BADIAH

Komentar