- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
بَابُ الْوُضُوءِ
Pasal tentang Wudhu
Fardhu Wudhu
الْفُرُوضُ
الَّتِي لَا يَصِحُّ الْوُضُوءُ إِلَّا بِهَا سِتَّةٌ:
(الْأَوَّلُ) النِّيَّةُ وَيَجِبُ أَنْ تَكُونَ مُقَرُّونَةً
بِأَوَّلِ جُزْءٍ يَغْسِلُهُ مِنَ الْوَجْهِ وَيَنْوِي الْمُتَوَضِّئُ رَفْعَ
الْحَدَثِ أَوْ فَرْضَ الْوُضُوءِ أَوِ الْوُضُوءَ فَقَطْ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ.
Fardhu-fardhunya wudhu yang tanpa
adanya salah satunya maka wudhu tidak sah ada enam:
(Pertama) Niat. Wajib bagi yang
berwudhu agar niatnya menyertai bagian pertama yang dibasuh dari wajah, dengan
berniat menghilangkan hadats atau menunaikan fardu wudhu, atau hanya berwudhu
saja, atau semisalnya.
(وَالثَّانِي) غَسْلُ الْوَجْهِ مِنْ مَنَابِتِ شَعْرِ الرَّأْسِ
إِلَى مُنْتَهَى الذَّقَنِ، وَمِنْ وَتَدِ إِحْدَى الْأُذُنَيْنِ إِلَى وَتَدِ
الْأُخْرَى، وَيَجِبُ غَسْلُ الشَّعَرِ النَّابِتِ فِي الْوَجْهِ ظَاهِرًا
وَبَاطِنًا إِلَّا اللِّحْيَةَ الْغَزِيرَةَ فَيَكْفِي غَسْلُ ظَاهِرِهَا فَقَطْ
وَالسُّنَّةُ تَخْلِيلُ بَاطِنِهَا، وَيَجِبُ أَيْضًا غَسْلُ السَّلْعَةِ
النَّابِتَةِ فِي الْوَجْهِ وَإِنْ طَالَتْ جِدًّا.
(Kedua) Membasuh wajah dari tempat tumbuhnya rambut
kepala hingga ujung dagu, dan dari daun telinga satu ke daun telinga yang lain.
Wajib membasuh rambut yang tumbuh di wajah, baik yang tampak maupun yang
tersembunyi, kecuali jenggot yang lebat, cukup membasuh bagian luarnya saja,
dan sunnah membasuh bagian dalamnya. Juga wajib membasuh benjolan (salah) yang
terdapat di wajah, meskipun sangat panjang.
(وَالثَّالِثُ) غَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمَرْفِقَيْنِ، وَيَجِبُ
غَسْلُ الشَّعَرِ النَّابِتِ عَلَيْهِمَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا وَإِنْ كَثُرَ
وَطَالَ وَغَسْلُ سَلْعَتِهِمَا وَإِنْ طَالَتْ.
(وَالرَّابِعُ) مَسْحُ جُزْءٍ مِنْ جِلْدِ الرَّأْسِ أَوْ مِنَ
الشَّعَرِ النَّابِتِ فِيهِ وَلَوْ رَأْسِ شَعْرَةٍ وَاحِدَةٍ بِشَرْطِ أَنْ لَا
يَمْسَحَ عَلَى الطَّوِيلِ الْخَارِجِ عَنْ حَدِّ الرَّأْسِ.
(Ketiga) Membasuh kedua tangan bersama kedua siku.
Wajib membasuh rambut yang tumbuh di keduanya, baik yang tampak maupun yang
tersembunyi, meskipun banyak dan panjang, serta membasuh benjolan (salah) di
keduanya, meskipun panjang.
(Keempat) Menyapu sebagian kulit kepala atau rambut
yang tumbuh di atasnya, meskipun hanya satu helai rambut, dengan syarat tidak
menyapu rambut yang panjang keluar dari batas kepala.
(وَالْخَامِسُ) غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ مِنْ
كُلِّ رِجْلٍ وَشَعْرِ الرِّجْلَيْنِ وَسَلْعَتِهِمَا كَشَعْرِ الْيَدَيْنِ،
وَيَجِبُ تَحْرِيكُ الْخَاتَمِ الضَّيِّقِ وَتَخْلِيلُ أَصَابِعِ الْيَدَيْنِ
وَالرِّجْلَيْنِ إِنْ كَانَ الْمَاءُ لَا يَصِلُ إِلَيْهِ إِلَّا بِذَلِكَ.
(Kelima) Membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki,
serta rambut dan benjolan (salah) di keduanya, sebagaimana perlakuan terhadap
kedua tangan. Wajib menggerakkan cincin yang sempit dan menyela-nyela jari-jari
tangan dan kaki jika air tidak dapat mencapai bagian tersebut kecuali dengan
melakukan hal itu.
(وَالسَّادِسُ) تَرْتِيبُ الْأَعْضَاءِ بِأَنْ يُقَدِّمَ الْوَجْهَ
عَلَى الْيَدَيْنِ وَالْيَدَيْنِ عَلَى الرَّأْسِ وَالرَّأْسَ عَلَى
الرِّجْلَيْنِ، وَيَجِبُ فِي الْوُضُوءِ إِزَالَةُ الْأَوْسَاخِ الَّتِي تَمْنَعُ
وُصُولَ الْمَاءِ إِلَى الْأَعْضَاءِ إِلَّا إِنْ كَانَ فِي إِزَالَتِهَا شِدَّةُ
مَشَقَّةٍ، وَمِثْلُهَا الْأَوْسَاخُ الَّتِي تَحْتَ الْأَظْفَارِ، وَلَا يَكْفِي
مَسْحُ الْأَعْضَاءِ الْمَغْسُولَةِ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ سَيْلَانِ الْمَاءِ
عَلَيْهَا، وَإِذَا تَرَكَ لَمْعَةً صَغِيرَةً مِنْ عُضْوٍ وَلَوْ سَهْوًا لَمْ
يَصِحَّ الْوُضُوءُ حَتَّى يَغْسِلَهَا وَيُعِيدَ غَسْلَ الْأَعْضَاءِ الَّتِي
بَعْدَهَا.
(Keenam) Tertib (urutan) dalam melakukan anggota
wudhu, yaitu mendahulukan wajah atas tangan, tangan atas kepala, dan kepala
atas kaki. Wajib dalam wudhu menghilangkan kotoran yang menghalangi sampainya
air ke anggota, kecuali jika menghilangkannya menyePasalkan kesulitan yang
besar. Demikian juga kotoran yang ada di bawah kuku. Tidak cukup hanya dengan
menyapu anggota yang dibasuh, melainkan wajib air mengalir ke seluruhnya. Jika
ia meninggalkan sedikit saja kilap (celah yang tidak terbasuh) pada salah satu
anggota, walaupun lupa, maka wudhunya tidak sah hingga ia membasuhnya dan
mengulangi membasuh anggota yang datang setelahnya.
Sunah-sunah Wudhu
وَسُنَنُ
الْوُضُوءِ كَثِيرَةٌ: مِنْهَا اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ فِيهِ وَالتَّسْمِيَةُ
مُقَرُّونَةً بِأَوَّلِهِ وَغَسْلُ الْكَفَّيْنِ مَعًا إِلَى الْكُوْعَيْنِ ثُمَّ
الْمَضْمَضَةُ ثُمَّ الِاسْتِنْشَاقُ وَمَسْحُ الرَّأْسِ كُلِّهِ ثُمَّ مَسْحُ
الْأُذُنَيْنِ مَعًا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا بِمَاءٍ جَدِيدٍ وَتَقْدِيمُ الْيَمِينِ
عَلَى الشِّمَالِ مِنَ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ، وَتَطْهِيرُ كُلِّ عُضْوٍ
ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مُتَوَالِيَةٍ، وَالْمُوَالَاةُ لِغَيْرِ دَائِمِ الْحَدَثِ.
Dan sunnah-sunnah wudhu sangat banyak, di antaranya:
1.
Menghadap kiblat
ketika berwudhu
2.
Menyebut nama Allah
diawal wudhu
3.
Membasuh kedua telapak
tangan bersama hingga ke siku, kemudian kumur-kumur, lalu istinsyaq (memasukkan
air ke hidung)
4.
Menyapu seluruh
kepala, kemudian menyapu kedua telinga bagian luar dan dalam dengan air yang
baru
5.
Mendahulukan tangan
kanan daripada tangan kiri, baik pada tangan maupun kaki
6.
Membasuh setiap
anggota tiga kali berturut-turut
7.
Menjaga kesinambungan
(tidak terputus) bagi yang tidak dalam keadaan terus-menerus berhadats.
Kesunahan Bersiwak
(وَأَمَّا
السِّوَاكُ) فَلَيْسَ مِنَ السُّنَنِ الْخَاصَّةِ بِالْوُضُوءِ بَلْ هُوَ سُنَّةٌ
فِي كُلِّ حَالٍ إِلَّا فِي الصَّوْمِ فَيُكْرَهُ مِنَ الزَّوَالِ إِلَى
الْغُرُوبِ
Adapun masalah siwak (menggosok
gigi), ia bukan merupakan sunnah khusus bagi wudhu, melainkan sunnah dalam
setiap keadaan, kecuali dalam keadaan puasa, dimana siwak tidak disukai dari
waktu tengah hari hingga terbenam matahari.
وَيَتَأَكَّدُ
اسْتِحْبَابُهُ عِنْدَ الْوُضُوءِ وَمَحَلُّهُ فِيهِ قَبْلَ الْمَضْمَضَةِ،
وَيَتَأَكَّدُ أَيْضًا عِنْدَ تَغَيُّرِ الْفَمِ وَالِانْتِبَاهِ مِنَ النَّوْمِ
وَإِرَادَةِ الصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالْعِلْمِ
Penggunaan siwak sangat dianjurkan saat berwudhu,
tempatnya sebelum kumur-kumur. Ia juga sangat dianjurkan saat mulut berubah
bau, saat bangun tidur, saat akan shalat, membaca Al-Qur'an, belajar ilmu, dan
lain-lain.
وَتَحْصُلُ
السُّنَّةُ فِيهِ بِكُلِّ طَاهِرٍ خَشِنٍ يُزِيلُ صُفْرَةَ الْأَسْنَانِ وَلَوْ
خِرْقَةً وَأَفْضَلُهُ الْأَرَاكُ الْيَابِسُ الْمُبَلَّلُ بِالْمَاءِ.
Sunnah dalam siwak terpenuhi dengan menggunakan
sesuatu yang bersih dan kasar yang dapat menghilangkan kuning pada gigi,
meskipun hanya dengan kain. Yang paling utama adalah siwak dari kayu arak yang
kering dan dilemPasalkan dengan air.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar