Riyadhul Badiah - Penutup

Riyadhul Badiah - Kitab Jenazah

 


كِتَابُ الْجَنَائِزِ

Kitab tentang Perawatan Jenazah


كُلُّ مَيِّتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَجِبُ غَسْلُهُ وَتَكْفِينُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ إِلاَّ الشَّهِيدُ فِي قِتَالِ الْكُفَّارِ، وَالسَّقْطُ إِذَا نَزَلَ مَيِّتًا قَبْلَ تَمَامِ أَشْهُرِهِ فَإِنَّهُمَا لَا يُغْسَلَانِ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِمَا.

Setiap orang Muslim yang meninggal wajib untuk dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dikuburkan, kecuali syahid dalam peperangan melawan orang-orang kafir, dan janin yang gugur sebelum sempurna bulannya, keduanya tidak dimandikan dan tidak disalatkan.

 

Memandikan Mayit

وَأَقَلُّ غَسْلِ الْمَيِّتِ تَعْمِيمُ جَسَدِهِ بِالْمَاءِ مَرَّةً وَاحِدَةً بِشَرْطِ أَنْ تَزُولَ عَنْهُ الأَوْسَاخُ الَّتِي تَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ إِلَى جَسَدِهِ بِتِلْكَ الْمَرَّةِ.

Mandi jenazah paling minimal adalah dengan membasuh seluruh tubuhnya dengan air satu kali, dengan syarat segala kotoran yang menghalangi air untuk mencapai seluruh tubuh telah hilang.

 

وَأَكْمَلُهُ أَنْ يُجْلِسَهُ الْغَاسِلُ مَائِلاً إِلَى قَفَاهُ وَيُسَنِّدَ ظَهْرَهُ وَيَمُرَّ يَدَهُ عَلَى بَطْنِهِ لِيُخْرِجَ مَا فِيهِ مِنَ الأَذَى ثُمَّ يَغْسِلُ سَوْأَتَيْهِ بِخِرْقَةٍ مَلْفُوفَةٍ عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى، ثُمَّ يَنْظِفُ أَسْنَانَهُ وَمَنْخِرَيْهِ وَأُذُنَيْهِ بِسَبَّابَتِهِ الْيُسْرَى وَيَلْفُ عَلَيْهَا لِكُلِّ مَرَّةٍ خِرْقَةً نَظِيفَةً أَوْ نَحْوَهَا، ثُمَّ يُوَضِّئُهُ كَالْحَيِّ ثُمَّ يُعَمِّمُهُ بِالْمَاءِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَيَكُونُ فِي الْمَرَّةِ الأُولَى سِدْرٌ أَوْ نَحْوُهُ، وَفِي الْأَخِيرَةِ قَلِيلٌ مِنْ كَافُورٍ، وَيَبْدَأُ فِي كُلِّ مَرَّةٍ مِنَ الثَّلَاثِ بِغَسْلِ رَأْسِهِ وَالسُّنَّةُ تَنْشِيفُهُ بَعْدَ تَمَامِ غَسْلِهِ.

Penyempurnaannya adalah dengan menempatkan jenazah sedikit miring ke belakang, menyandarkan punggungnya, kemudian tangan penyuluh mengusap perutnya untuk mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, lalu membasuh bagian auratnya dengan kain yang dililitkan di tangan kiri, selanjutnya membersihkan giginya, lubang hidung, dan telinganya dengan jari telunjuk kiri, setiap kali menggunakan kain bersih, kemudian memandikannya seperti wudhu, lalu membasuhnya tiga kali, di mana pada kali pertama menggunakan air yang dicampur bidara atau yang serupa, dan pada terakhir menggunakan sedikit kafur, dan dimulai setiap kali membasuh dari kepalanya. Disunnahkan mengeringkannya setelah selesai memandikan.

 

Mengkafani Mayit

وَيُكَفَّنُ الْمَيِّتُ فِيمَا يَجُوزُ لَهُ فِي حَيَاتِهِ لَبْسُهُ مِنَ الثِّيَابِ، وَالأَبْيَضُ أَفْضَلُ مِنْ غَيْرِهِ، وَالْقَدِيمُ الْمَغْسُولُ أَوْلَى مِنَ الْجَدِيدِ.

Jenazah dikafani dengan pakaian yang diperbolehkan baginya saat hidup, dan warna putih lebih utama daripada warna lain, serta pakaian bekas yang sudah dicuci lebih diutamakan daripada yang baru.

 

وَأَقَلُّ الْكَفَنِ لَفَّافَةٌ وَاحِدَةٌ تَسْتُرُ جَمِيعَ الْبَدَنِ إِلَّا رَأْسَ الْمُحْرِمِ وَوَجْهَ الْمُحْرِمَةِ فَيَحْرُمُ سَتْرُهُمَا.

Kain kafan paling minimal adalah satu helai kain yang menutupi seluruh tubuh, kecuali untuk orang yang sedang ihram, di mana wajahnya tidak boleh ditutup.

 

وَأَقَلُّهُ لِلذَّكَرِ ثَلَاثُ لَفَائِفَ لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ، وَلِلأُنْثَى لَفَّافَتَانِ وَإِزَارٌ وَخِمَارٌ وَقَمِيصٌ.

Untuk laki-laki, minimal tiga lembar kain kafan tanpa ada baju dan surban. Untuk perempuan, minimal dua lembar kain kafan, satu sarung, satu kerudung, dan satu baju.

 

وَالسُّنَّةُ أَنْ يُوضَعَ عَلَى مَنَافِذِ الْمَيِّتِ وَأَعْضَاءِ سُجُودِهِ قُطْنٌ، وَأَنْ يُرَشَّ عَلَى جَسَدِهِ وَعَلَى كُلِّ طَبَقَةٍ مِنْ طَبَقَاتِ الْكَفَنِ وَعَلَى الْقُطْنِ حَنُوطٌ وَيُوضَعَ مَعَ الْحَنُوطِ كَافُورٌ، وَأَنْ تُشَدَّ أَلْيَاهُ بِخِرْقَةٍ وَأَنْ يُشَدَّ الْكَفَنُ بِشِدَادٍ وَتُحَلُّ الشِّدَادُ عَنْهُ فِي الْقَبْرِ.

Sunnah adalah meletakkan kapas pada lubang-lubang jenazah dan anggota sujudnya, serta menyiram atau menaburkan wewangian (hanuth) pada tubuhnya, pada setiap lapisan kain kafan, dan juga pada kapas, dengan menambahkan sedikit kafur. Disunnahkan pula mengikat pinggang jenazah dengan kain, dan mengikat kain kafan dengan tali, yang kemudian dilepas saat dikuburkan.

 

Shalat Jenazah

وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ لَيْسَ فِيهَا رُكُوعٌ وَلَا سُجُودٌ. وَأَرْكَانُهَا أَرْبَعُ تَكْبِيرَاتٍ وَالنِّيَّةُ مُقَرَّنَةٌ بِالتَّكْبِيرَةِ الأُولَى وَالْقِيَامُ لِلْقَادِرِ عَلَيْهِ، وَقِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ فِي أَيِّ مَحَلٍّ وَالأَفْضَلُ أَنْ تَكُونَ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الأُولَى، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الثَّانِيَةِ، وَالدُّعَاءُ لِلْمَيِّتِ بِأُخْرَوِيٍّ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الثَّالِثَةِ. وَأَقَلُّهُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ. وَالتَّسْلِيمَةُ الأُولَى بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الرَّابِعَةِ.

Shalat jenazah tidak ada ruku' dan sujud di dalamnya. Rukunnya ada empat takbir, dengan niat yang menyertai takbir pertama, dan berdiri bagi yang mampu, serta membaca Al-Fatihah di tempat yang mana saja, namun lebih utama jika dilakukan setelah takbir pertama. Setelah takbir kedua, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam. Setelah takbir ketiga, berdoa untuk si mayit dengan doa akhirat, yang paling minimal adalah اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ ("Ya Allah, ampunilah dia dan berilah dia rahmat.") Dan diakhiri dengan salam pertama setelah takbir keempat.

 

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَتَعَوَّذَ قَبْلَ الْفَاتِحَةِ وَأَنْ يُطِيلَ الدُّعَاءَ بَعْدَ الثَّالِثَةِ وَأَنْ يَكُونَ بِالْوَارِدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَأَنْ يَقُولَ بَعْدَ الرَّابِعَةِ وَقَبْلَ السَّلَامِ: اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ وَلِلْمُسْلِمِينَ.

Disunnahkan untuk membaca ta'awwudz sebelum membaca Al-Fatihah, memperpanjang doa setelah takbir ketiga, dan menggunakan doa yang bersumber dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Setelah takbir keempat dan sebelum salam, disunahkan untuk berdoa: "Ya Allah, jangan Engkau haramkan kami dari pahalanya, dan jangan Engkau beri cobaan kepada kami setelahnya, dan ampunilah kami dan dia, serta para Muslim."

 

Menguburkan Mayit

وَأَقَلُّ الدَّفْنِ أَنْ يَكُونَ فِي حَفِيرَةٍ تَمْنَعُ ظُهُورَ رَائِحَةِ الْمَيِّتِ وَتَصُونُ جَسْمَهُ مِنْ أَكْلِ السِّبَاعِ. وَأَكْمَلُهُ أَنْ يَكُونَ فِي لَحْدٍ إِنْ كَانَتِ الأَرْضُ قَوِيَّةً، وَفِي شَقٍّ إِنْ كَانَتْ رَخْوَةً، وَأَنْ يُوَسَّعَ وَيُعَمَّقَ قَدْرَ قَامَةٍ وَبِسَاطَةٍ، وَيَجِبُ أَنْ يُضَجَّعَ الْمَيِّتُ فِي الْقَبْرِ عَلَى جَنْبِهِ وَأَنْ يُوَجَّهَ لِلْقِبْلَةِ، وَالسُّنَّةُ أَنْ يَكُونَ عَلَى الْجَنْبِ الأَيْمَنِ، وَأَنْ يُرَشَّ قَبْرُهُ بِمَاءٍ بَارِدٍ، وَأَنْ يُلَقَّنَ بَعْدَ دَفْنِهِ إِنْ كَانَ مُكَلَّفًا، وَأَنْ يُعَزَّى أَهْلُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ إِلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، وَلَا يَجُوزُ دَفْنُ مَيِّتَيْنِ فِي قَبْرٍ وَلَا نَبْشُ الْقَبْرِ قَبْلَ بَلَى الْمَيِّتِ لِدَفْنِ مَيِّتٍ آخَرَ أَوْ غَيْرِهِ إِلَّا لِضَرُورَةٍ.

Penguburan paling minimal adalah menggali lubang yang dapat mencegah bau mayit keluar dan melindungi tubuhnya dari dimakan binatang buas. Yang paling sempurna adalah dengan membuat liang lahad jika tanahnya kuat, atau dengan membuat syaq (lubang di samping) jika tanahnya lunak, yang lebarnya dan dalamnya cukup untuk tubuhnya. Wajib membaringkan jenazah miring ke kanan dan menghadapkan ke kiblat. Disunnahkan juga menyiram kubur dengan air dingin, memberi ta'lim (pengajaran) setelah dikuburkan jika dia orang mukallaf, serta melayat keluarganya selama tiga hari. Tidak boleh menguburkan dua jenazah dalam satu kubur, kecuali dalam keadaan darurat.


DAFTAR ISI TERJEMAH RIYADHUL BADIAH

Komentar