Riyadhul Badiah - Penutup

Riyadhul Badiah - Pasal Kurban dan Aqiqah

 


بَابُ الضّحِيَّةِ وَالعَقِيْقَةِ

Pasal tentang Kurban dan Aqiqah

 

 

الضَّحِيَّةُ سَنَةٌ مُؤَكَّدَةٌ فِي جَمِيْعِ الْجِهَاتِ، وَيَزِيْدُ تَأْكِيْدُهَا فِي حَقِّ الْحُجَّاجِ بِمِنًى، وَيَدْخُلُ وَقْتُهَا إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ وَمَضَى زَمَنٌ يَسَعُ صَلَاةَ الْعِيْدِ وَخُطْبَتَيْهِ وَيَسْتَمِرُّ أَدَاءُ إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ الثَّلَاثَةِ، فَمَنْ ذَبَحَ ضَحِيَّتَهُ قَبْلَ دُخُوْلِ وَقْتِهَا لَمْ تَقَعْ لَهُ ضَحِيَّةٌ، وَكَذَلِكَ مَنْ ذَبَحَهَا بَعْدَ خُرُوْجِ وَقْتِهَا إِلَّا إِذَا نَذَرَ ضَحِيَّةً مُعَيَّنَةً أَوْ ضَحِيَّةً فِي ذِمَّتِهِ ثُمَّ عَيَّنَ الْمَنْذُوْرَ وَأَخَّرَ الذَّبْحَ حَتَّى خَرَجَ الْوَقْتُ فَإِنَّهُ يَلْزَمُهُ بَعْدَهُ وَيَكُوْنُ قَضَاءً، وَيَحْرُمُ تَأْخِيْرُ ذَبْحِ الْوَاجِبَةِ عَنْ وَقْتِهَا بِلَا عُذْرٍ.

Kurban adalah sunah muakad di semua sisi, dan kesunahannya semakin kuat bagi para jemaah haji di Mina. Waktunya dimulai saat matahari terbit dan berlangsung selama waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat Ied beserta dua khutbahnya, dan terus berlanjut hingga terbenamnya matahari di hari-hari Tasyrik yang ketiga. Barang siapa yang menyembelih kurbannya sebelum masuk waktu, maka ia tidak sah kurbannya. Begitu pula bagi yang menyembelihnya setelah keluar waktu, kecuali jika ia bernazar kurban tertentu atau kurban yang ada dalam tanggungannya, lalu ia menentukan binatang yang dinadzarkan dan menunda penyembelihan hingga keluar waktunya, maka ia wajib melakukannya sebagai qadha' (pemenuhan).

 

Pelaksanaan Kurban

(وَلَا تَصِحُّ التَّضْحِيَةُ) إِلَّا بِالْأَنْعَامِ وَأَفْضَلُهَا بَعِيرٌ ثُمَّ بَقَرَةٌ ثُمَّ شَاةٌ وَسَبْعُ شِيَاهٍ أَفْضَلُ مِنْ بَعِيرٍ وَالضَّأْنُ أَفْضَلُ مِنَ الْمَعْزِ، وَتَصِحُّ بِالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى إِلَّا إِنْ كَانَتْ حَبْلَى وَالذَّكَرُ أَفْضَلُ، فَإِنْ كَثُرَ نُزْوَانُهُ فَالْأُنْثَى الَّتِي لَمْ تَلِدْ أَفْضَلُ مِنْهُ، وَالْمُجْزِئُ مِنَ الْإِبِلِ مَا تَمَّ لَهُ خَمْسُ سِنِينَ وَدَخَلَ فِي السَّادِسَةِ، وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْمَعْزِ مَا تَمَّ لَهُ سَنَتَانِ وَدَخَلَ فِي الثَّالِثَةِ، وَمِنَ الضَّأْنِ مَا تَمَّ لَهُ سَنَةٌ أَوْ أَسْقَطَ ثَنَايَاهُ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ، وَلَا يَجْزِيءُ مَا فِيهِ جَرَبٌ وَلَوْ يَسِيرًا، وَلَا مَا فِيهِ هَزَالٌ أَوْ عَرَجٌ أَوْ عَوَرٌ أَوْ مَرَضٌ بَيِّنٌ وَمَا انْفَصَلَ مِنْهُ جُزْءٌ مَأْكُولٌ وَلَوْ يَسِيرًا إِلَّا الْخَصِيُّ.

Dan tidak sah kurban kecuali dengan hewan ternak, dan yang paling utama adalah unta, kemudian sapi, lalu kambing, dan tujuh kambing lebih utama daripada seekor unta. Domba lebih utama dari kambing. Kurban sah dengan hewan jantan dan betina, kecuali jika betina sedang hamil, maka yang jantan lebih utama. Jika jantan itu terlalu banyak naik, maka yang betina yang belum beranak lebih utama daripadanya. Yang mencukupi dari unta adalah yang telah berusia lima tahun dan memasuki tahun keenam, dari sapi dan kambing yang telah berusia dua tahun dan memasuki tahun ketiga, dan dari domba yang telah berusia satu tahun atau sudah menggugurkan gigi seri setelah berusia enam bulan. Tidak sah kurban yang ada cacat kudis walaupun sedikit, atau yang kurus, atau pincang, atau buta, atau sakit nyata, atau sebagian anggotanya terpotong meskipun sedikit, kecuali hewan yang dikebiri.

 

(وَيُحَرَّمُ) الْأَكْلُ مِنَ الضَّحِيَّةِ الْوَاجِبَةِ وَيَجِبُ التَّصَدُّقُ بِهَا كُلِّهَا، وَالسُّنَّةُ أَنْ يَأْكُلَ مِنَ الضَّحِيَّةِ الْمَسْنُونَةِ وَالْأَفْضَلُ الْأَكْلُ مِنْ كَبِدِهَا، وَيَجِبُ التَّصَدُّقُ بِجُزْءٍ مِنْ لَحْمِهَا نِيئًا، وَالْأَفْضَلُ التَّصَدُّقُ بِهَا كُلِّهَا إِلَّا لُقْمَةً يَتَبَرَّكُ بِأَكْلِهَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ تَصَدَّقَ بِثُلُثِهَا وَأَهْدَى ثُلُثَهَا وَأَكَلَ ثُلُثَهَا،

Diharamkan memakan kurban wajib, dan wajib bersedekah dengan seluruhnya. Sunah makan dari kurban sunnah, dan yang lebih utama adalah makan dari hatinya. Wajib bersedekah dengan sebagian dagingnya dalam keadaan mentah, dan yang lebih utama adalah bersedekah dengan seluruhnya kecuali satu suapan untuk berkah. Barang siapa yang tidak melakukan itu, maka ia harus bersedekah dengan sepertiga, menghadiahkan sepertiga, dan memakan sepertiga.

 

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَذْبَحَهَا الرَّجُلُ بِنَفْسِهِ وَأَنْ يَحْضُرَ الذَّبْحَ مَنْ لَمْ يَذْبَحْ بِنَفْسِهِ وَيُسَمِّيَ وَيُكَبِّرَ اللَّهَ تَعَالَى عِنْدَ الذَّبْحِ وَيُصَلِّيَ وَيُسَلِّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Sunah bagi laki-laki untuk menyembelih kurbannya sendiri, dan sunah bagi yang tidak menyembelih sendiri untuk hadir pada saat penyembelihan, menyebut nama Allah Ta'ala, bertakbir pada saat penyembelihan, serta bershalawat dan memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

 

Pelaksanaan Aqiqah

(فَصْلٌ): وَالْعَقِيقَةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَيَدْخُلُ وَقْتُهَا بِانْفِصَالِ الْوَلَدِ وَالْأَفْضَلُ ذَبْحُهَا يَوْمَ سَابِعِهِ وَلَا يَجْزِئُ فِيهَا مَا لَا يَجْزِئُ فِي الضَّحِيَّةِ

Pasal: 'Aqiqah (penyembelihan hewan untuk bayi) adalah sunah mu'akkadah (sunah yang ditekankan). Waktunya dimulai sejak kelahiran bayi. Yang lebih utama adalah menyembelihnya pada hari ketujuh, dan tidak mencukupi untuk 'aqiqah apa yang tidak mencukupi untuk qurban.

 

وَأَقَلُّهَا شَاةٌ عَنْ كُلِّ مَوْلُودٍ، وَالْأَفْضَلُ ذَبْحُ شَاتَيْنِ عَنِ الذَّكَرِ وَشَاةٍ عَنِ الْأُنْثَى وَيُطْبَخُهَا بِحُلْوٍ وَلَا يُكَسِّرُ عَظْمَهَا بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ وَبَعْثُهَا لِلْفُقَرَاءِ فِي أَمَاكِنِهِمْ أَحَبُّ مِنْ نِدَائِهِمْ إِلَيْهَا،

Paling sedikit untuk 'aqiqah adalah seekor kambing untuk setiap bayi. Yang lebih utama adalah menyembelih dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan satu ekor kambing untuk bayi perempuan. Dagingnya dimasak dengan sesuatu yang manis, dan diupayakan agar tidak memecahkan tulangnya. Mengirimnya kepada orang-orang fakir di tempat mereka lebih dicintai daripada memanggil mereka untuk mengambilnya.

 

وَالْمُخَاطَبُ بِهَا مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَةُ الْمَوْلُودِ إِنْ أَيْسَرَ بِهَا قَبْلَ مُضِيِّ سِتِّينَ يَوْمًا مِنَ الْوِلَادَةِ، وَيَسْتَمِرُّ طَلَبُهَا مِنْهُ حِينَئِذٍ إِلَى بُلُوغِ الْمَوْلُودِ فَإِنْ لَمْ يُوْسَرْ بِهَا إِلَّا بَعْدَ مُضِيِّ السِّتِّينَ لَمْ تُطْلَبْ مِنْهُ بَلْ لَوْ فَعَلَهَا حِينَئِذٍ وَقَعَتْ شَاةُ لَحْمٍ لَا عَقِيقَةٌ

Yang dibebani untuk 'aqiqah adalah orang yang wajib menafkahi bayi tersebut, jika mampu melakukannya sebelum lewat enam puluh hari sejak kelahiran. Permintaan untuk melakukannya tetap berlaku sampai bayi baligh. Jika baru mampu setelah lewat enam puluh hari, maka tidak diminta darinya. Jika dia lakukan setelah itu, maka itu hanya daging biasa, bukan 'aqiqah.

 

وَحَيْثُ طُلِبَتْ مِنْهُ لَا يَفْعَلُهَا إِلَّا مِنْ مَالِ نَفْسِهِ وَلَوْ كَانَ الْمَوْلُودُ غَنِيًّا، وَمَنْ بَلَغَ وَلَمْ يُعَقِّ عَنْهُ لَهُ أَنْ يُعَقِّ عَنْ نَفْسِهِ،

Jika dimintakan darinya, maka dia tidak boleh melakukannya kecuali dari hartanya sendiri, meskipun bayi itu kaya. Barang siapa yang sudah baligh namun belum pernah di'aqiqahi, maka dia boleh melakukan 'aqiqah untuk dirinya sendiri.

 

Kesunahan Mengadzani Bayi yang Baru Lahir

وَالسُّنَّةُ أَنْ يُؤَذِّنَ حِينَ الْوِلَادَةِ فِي أُذُنِ الْمَوْلُودِ الْيُمْنَى، وَتُقَامُ الصَّلَاةُ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى، وَأَنْ يُحَنِّكَهُ حِينَئِذٍ شَخْصٌ مِنْ أَهْلِ الْخَيْرِ بِشَيْءٍ حُلْوٍ كَتَمْرٍ، وَأَنْ يُحَلِّقَ رَأْسَهُ وَلَوْ أُنْثَى، وَيَتَصَدَّقَ بِوَزْنِ شَعَرِهِ ذَهَبًا أَوْ فِضَّةً، وَيُسَمِّيَهُ بِاسْمٍ مِنَ الْأَسْمَاءِ الْحَسَنَةِ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ الْحَلْقُ وَالتَّصَدُّقُ وَالتَّسْمِيَةُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَأَفْضَلُ الْأَسْمَاءِ مُحَمَّدٌ فَعَبْدُ اللَّهِ فَعَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَالتَّسْمِيَةُ بِمَلِكِ الْمُلُوكِ وَقَاضِي الْقُضَاةِ وَعَبْدِ النَّبِيِّ حَرَامٌ، وَبِالْأَسْمَاءِ الْقَبِيحَةِ كَشُهَابٍ وَمُرَّةَ مَكْرُوهَةٌ.

Sunah mengadzankan di telinga kanan bayi ketika lahir, dan iqamat di telinga kirinya. Sunnah juga menghanalkannya (mengunyahkan kurma atau semacamnya) dengan orang yang saleh, mencukur rambutnya (meskipun bayi perempuan), bersedekah seberat rambut tersebut dengan emas atau perak, dan menamakannya dengan nama yang baik. Yang lebih utama adalah melakukan pencukuran, sedekah, dan pemberian nama pada hari ketujuh. Nama yang lebih utama adalah Muhammad, lalu Abdullah, lalu Abdurrahman. Sedangkan menamakan dengan sebutan "Raja para raja" atau "Hakim para hakim" atau "Hamba Nabi" adalah haram, dan menamakan dengan nama-nama yang buruk seperti Syuhab dan Murrah adalah makruh.


DAFTAR ISI TERJEMAH RIYADHUL BADIAH

Komentar