- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
الْخَاتِمَةُ فِيْ مَسَائِلَ مُهِمَّة
تَتَّبِعُ مَا سَلَفَ نُقِلَتْ عَنِ السَّلَفِ
Penutup
Tentang Masalah-Masalah Penting
Mengacu yang Lalu, Dikutip Dari Pendapat Ulama Salaf
س: هَلْ يَجُوْزُ التَّكَلَّمُ فِيْ ذَاتِهِ؟
ج: لَا يَجُوْزُ التَّكَلَّمُ فِيْ ذَاتِهِ تَعَالَى لِأَنَّ الْعَقْلَ قَاصِرٌ عَنْ إِدْرَاكِ ذَاتِ الْخَالِقِ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى، فُكُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذلِكَ.
Soal: Apakah boleh membicarakan Dzat Allah dengan menggunakan akal?
Jawab: Tidak boleh membicarakan tentang Dzat Allah SWT dengan akal semata. Sebab akal tidak dapat mengetahui Dzat Allah Yang Maha Menciptakan. Apa saja yang tergerak dalam hati, maka Allah tidaklah seperti itu.
إِذَا كَانَ الْعَقْلُ لَا يُدْرِكُ ذَاتَهُ تَعَالَى فَكَيْفَ الْوُصُوْلُ إِلَى مَعْفِرَتِهِ تَعَالَى مَعَ أَنَّ الْمَعْرِفَةَ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ؟
ج: إِنَّ مَعْرِفَتَهُ تَعَالَى تَحْصُلُ بِمَعْرِفَةِ صِفَاتِهِ مِنَ الْوُجُوْدِ وَ الْقِدَمِ وَ الْبَقَاءِ، وَ مُخَالَفَتِهِ لِلْحَوَادِثِ، وَ الْقِيَامُ بِنَفْسِهِ، وَ الْوَحْدَانِيَّةِ وَ الْحَيَاةِ، وَ الْعِلْمِ، وَ الْقُدْرَةِ، وَ الْإِرَادَةِ، وَ السَّمْعِ، وَ الْبَصَرِ، وَ الْكَلَامِ.
Soal: Kalau akal tidak dapat mengetahui Dzat Allah SWT, maka bagaimanakah untuk sampai kepada mengenal Allah, padahal sesungguhnya mengenal kepada Allah itu wajib bagi semua orang?
Jawab: Sebenarnya mengenal Allah SWT dapat tercapai dengan mengenal sifat-Nya, yakni sifat: wujūd, qidam, baqa’, mukhalafatu lil-ḥawadits, qiyamuhu binafsih, waḥdaniyyah, ḥayat, ilmu, qudrat, iradat, sama‘, bashar dan kalam.
س: بِأَيِّ شَيْءٍ عَرَفْنَا اللهَ تَعَالَى مَعَ أَنَّنَا مَا رَأَيْنَاهُ بِأَبْصَارِنَا؟
ج: عَرَفْنَا وُجُوْدَ اللهِ تَعَالَى وَ بَاقِيَ صِفَاتِهِ بِظُهُوْرِ آثَارِ قُدْرَتِهِ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ الْحَادِثَةِ الْمُتْقَنَةِ الْبَدِيْعَةِ الْمُحَيِّرَةِ لِلْعُقُوْلِ: كَالسَّموَاتِ وَ مَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ مِنَ الشَّمْسِ وَ الْقَمَرِ وَ النَّجُوْمِ، وَ الْأَرْضِ وَ مَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ مِنَ الْمَعَادِنِ وَ الْأَشْجَارِ وَ غَيْرِ ذلِكَ مِنَ أَنْوَاعِ الْحَيَوَانَاتِ الَّتِيْ مِنْهَا الْإِنْسَانُ الْمَخْلُوْقُ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، الْمَوْصُوْفُ بِأَنْوَاعِ الْكَمَالِ وَ الْفَضْلِ، الْمُمْتَازُ بِالْعَقْلِ الْقَوِيْمِ فَكَمَا أَنَّ مَنْ شَاهَدَ بِنَاءً عَرَفَ أَنَّ لَهُ بَانِيًا. وَ مَنْ شَاهَدَ كِتَابًا عَرَفَ أَنَّ لَهُ كَاتِبًا وَ إِنْ لَمْ يَرَهُ وَ لَمْ يَسمَعْ خَبَرَهُ، فَكَذلِكَ مَنْ رَأَى هذَا الْعَالَمَ الْمُتْقَنَ الْبَدِيْعَ الْبَاهِرَ عَرَفَ أَنَّ لَهُ مُوْجِدًا قَدِيْمًا عَلِيْمًا مُرِيْدًا قَدِيْرًا حَكِيْمًا.
Soal: Dengan cara apakah kita dapat mengenal Allah SWT, padahal kita tidak bisa melihatnya dengan mata?
Jawab: Kita dapat mengenal sifat wujud Allah dan sifat-sifat yang lain dengan memperhatikan bekas-bekas kekuasaan-Nya terhapat makhluk-makhlukNya yang baru, yang dibuat dengan seksama, yang amat indah, yang membingungkan pikiran karena sangat menakjubkan. Seperti adanya langit dan segala isinya, seperti: matahari, bulan, bintang. Adanya bumi dengan segala isinya, seperti: tambang, pohon-pohon dan lain sebagainya, dan dari macam-macam binatang, yang mana setengah daripadanya adalah manusia. Yang disebut terakhir itu adalah makhluk yang dijadikan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, dan keutamaan yang diistimewakan dengan akalnya yang lurus.
Seperti halnya seseorang yang melihat bangunan, ia mengerti bahwa bangunan tadi tentu ada yang mendirikannya. Orang yang melihat sebuah kitab, ia akan mengerti bahwa sesungguhnya ada penulisnya, sekalipun ia tidak melihat dan tidak mendengar beritanya. Maka demikian juga halnya orang yang melihat alam ini, berjalan dengan seksama, indah dan menakjubkan, niscaya dia mengerti bahwa sesungguhnya alam tadi ada Dzat yang menciptakannya, yang Terdahulu, yang Maha Mengetahui, yang Maha Berkehendak, Maha Kuasa, dan Maha Bijaksana.
س: هَلْ لِهذِهِ الْمَسْئَلَةِ نَظِيْرٌ في الْمَخْلُوْقَاتِ: أَيْ هَلْ يُوْجَدُ فِي الْمَخْلُوْقَاتِ شَيْئٌ نَتَحَقَّقُ وُجُوْدَهُ مَعَ أَنَّا لَا نَرَاهُ؟
ح: نَعَمْ وَ ذلِكَ كَالرُّوْحِ فَإِنَّا نَحْكُمُ بِوُجُوْدِهَا وَ أَنْ لَمْ نَحْظَ بِشُهُوْدِهَا حَيْثُ نَرَى مَا لَهَا مِنَ الْآثَارِ مَعَ أَنَّا لَا نَرَاهَا بِالْأَبْصَارِ وَ لَا نُدْرِكُ حَقِيْقَتَهَا بِالْأَفْكَارِ وَ كَذلِكَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى فَإِنَّهُ وَ إِنْ لَمْ نَرَهُ بِأَبْصَارِنَا وَ لَمْ نُدْرِكْ حَقِيْقَةَ ذَاتِهِ بِأَفْكَارِنَا. نَجْزِمُ بِوُجُوْدِ ذَاتِهِ الْمَوْصُوْفَةِ بِصِفَاتِ الْكَمَالِ نَظَرًا لِمَا نَرَى مِنْ آثَارِ صُنْعِهِ الْبَدِيْعِ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى الشَّاهِدِ لَهُ بِلِسَانِ الْحَالِ وَ الْمَقَالِ.
Soal: Apakah masalah ini ada contohnya pada makhluk Allah? Maksudnya, apakah ada sesuatu dari makhluk Allah yang kita tetapkan adanya padahal kita tidak bisa melihatnya.
Jawab: Ya, ruh, misalnya. Sesungguhnya kita menetapkan tentang adanya ruh itu, sekalipun kita tidak dapat melihatnya. Yang kita lihat hanyalah bekas-bekasnya, kita tidak dapat melihatnya dengan mata dan tidak dapat mengetahui hakikat ruh itu dengan pikiran kita.
Dan begitu juga halnya dengan Allah SWT Sesungguhnya meskipun kita tidak dapat melihat dan tidak dapat mengetahui tentang hakikat wujud-Nya dengan pikiran kita, kita dapat menetapkan tentang wujud-Nya Dzat Allah yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan karena memperhatikan kepada apa yang kita saksikan dari bekas perbuatan-Nya yang indah yang menjadi saksi dalam kenyataan maupun perkataan tentang adanya Allah itu.
س: هَلْ يَجُوْزُ الْخَوْضُ فِيْ حَقِيْقَةِ ذاتِهِ تَعَالَى وَ الْبَحْثُ عَنْ مَاهِيَّتِهَا؟
ج: لَا يَجُوْزُ ذلِكَ لِأَنَّ الْعَقْلَ قَاصِرٌ عَنْ إِدْرَاكِ حَقِيْقَتِهَا، فَالْبَحْثُ عَنْهَا إِضَاعَةُ وَقْتٍ وَ هذَا أَكْبَرُ دَلِيْلٍ عَلَى قَصْرٍ عَقْلِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ لَمْ يُدْرِكْ حَقِيْقَةَ رُوْحِهِ مَعَ كَوْنِهَا مَخْلُوْقَةً وَ غَيْرَ خَارِجَةٍ عَنْهُ. لِيَقْطَعَ الْأَمَلَ عَنْ إِدْرَاكِ حَقِيْقَةِ خَالِقَةِ الَّذِيْ لَيْسَ لَهُ شِبْهٌ.
Soal: Apakah boleh menyelami dan membahas tentang hakikat ruh itu?.
Jawab: Jelas kalau hal itu tidak boleh. Karena sesungguhnya akal kita tidak akan sampai untuk mengetahui hakikatnya. Oleh karena itu, membahas tentang hakikat ruh hanyalah membuang-buang waktu. Inilah sekuat-kuat dalil yang menunjukkan atas ketidakmampuan akal manusia, dikarenakan ia tidak akan dapat mengetahui hakikat ruhnya, padahal ruh itu adalah ciptaan Allah dan tidak keluar dari diri manusia itu sendiri. Maka dari itu, hendaklah manusia menghentikan lamunannya untuk mengetahui hakikat Dzat Allah yang menciptakan ruh itu, yang tidak ada yang menyamai-Nya.
س: هَلْ تُمْكِنُ رُؤْيَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى بِالْبَصَرِ؟
ج: رُؤْيَةُ اللهِ تَعَالَى بِالْبَصَرِ مُمْكِنَةٌ عَقْلًا وَاقِعَةٌ فِي الْجَنَّةِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ نَقْلًا قَالَ اللهُ تَعَالَى: “وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ” فَيَرَوْنَهُ بِالْأَبْصَارِ بِغَيْرِ كَيْفٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَ يُحْجَبُ عَنْهُ الْكَافِرُوْنَ زِيَادَةً لَهُمْ فِي الْحَسْرَةِ وَ النَّدَامَةِ.
Soal: Apakah mungkin melihat Allah SWT dengan mata?
Jawab: Melihat Allah SWT dengan mata adalah termasuk hal yang mungkin terjadi menurut akal. Dan hal ini dapat terjadi di surga bagi orang-orang mu’min menurut akal.
Sebab Allah SWT itu berwujud, padahal segala yang berwujud itu dapat dilihat. Allah berfirman: “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (al-Qiyamah: 22-23)
Maka dari itu, kelak, ahli surga akan melihat Allah dengan penglihatan mata sedangkan tidak dapat diketahui bagaimana caranya. Dan bagi orang-orang kafir, mereka terhalang untuk dapat melihat. Yang demikian adalah untuk menambah kesedihan dan penyesalan mereka.
س: هَلْ إِصَابَةُ الْعَيْنِ حَقٌّ؟
ج: نَعَمْ، وَ ذلِكَ لِأَنَّ بَعْضَ النُّفُوْسِ مِنْ شَأْنِهَا وَ خَوَاصِّهَا أَنَّهَا إِذَا نَظَرَتْ إِلَى شَيْءٍ نَظَرًا اسْتِحْسَانٍ وَ تَعَجُّبٍ يُصَابُ الْمَنْظُوْرُ إِلَيْهِ وَ يَلْحَقُهُ الضَّرَرُ. لكِنَّ هذِهِ النَّفُوْسَ قَلِيْلَةٌ جَدًّا فَلَا يَنْبَغِيْ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُشْغِلَ أَفْكَارَهُ بِذلِكَ، وَ يَنْسِبُ أَكْثَرَ مَا يُصَابُ بِهِ إِلَى إِصَابَةِ الْعَيْنِ أَوْ إِلَى السِّحْرِ كَمَا يَفْعَلُهُ كَثِيْرٌ.
Soal: Apakah terkena penyakit “‘ain” itu benar?
Jawab: Ya. Sebab, sebagian dari jiwa menurut keadaan dan keistimewaannya apabila melihat sesuatu dengan pandangan yang kagum dan menakjubkan, maka yang dipandang itu akan terkena dan selanjutnya terjadi kemudharatan atau bahaya. Tetapi, jiwa yang seperti itu sedikit sekali. Dari itu, tidak pantas bagi manusia bila pikirannya tertuju ke arah itu, dan menggolongkan orang yang tertimpa itu dengan sebutan terkena “‘ain” atau sihir, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan wanita. Karena perbuatan itu benar-benar tergolong tindakan yang tidak terpuji.
س: كَيْفَ تُؤَثِّرُ الْعَيْنُ مَعَ كَوْنِهَا أَلْطَفَ أَجْزَاءِ الْإِنْسَانِ وَ عَدَمِ اتِّصَالِهَا بِالْمَنْظُوْرِ إِلَيْهِ وَ عَدَمِ خُرُوْجِ شَيْءٍ مِنْهَا يَتَّصِلُ بِهِ؟
ج: لَا مَانِعَ أَنْ يَكُوْنَ لِلشَّيْءِ اللَّطِيْفِ تَأْثِيْرٌ قَوِيٌّ، وَ لَا يُشْتَرَطُ فِي التَّأْثِيْرِ الْاِتِّصَالُ فَإِنَّا نَرَى بَعْضَ النَّاسِ مِنْ أَصْحَابِ الْهَيْئَةِ وَ الْاِقْتِدَارِ، إِذَا نَظَرَ إِلَى أَحَدٍ نَظَرَ مُغْضَبٍ، رُبَّمَا يَعْتَرِيْ الْمَنْظُوْرَ إِلَيْهِ الدَّهْشَةُ وَ الْاِرْتِبَاكُ، وَ قَدْ يُفْضِيْ بِهِ الْأَمْرُ إِلَى الْهَلَاكِ. مَعَ أَنَّهُ لَمْ يَتَسَلَّطْ عَلَيْهِ فِيْ ظَاهِرِ الْحِسِّ، وَ لَا حَصَلَ بَيْنَ الْمُؤَثِّرِ وَ الْمُتَأَثِّرِ اتِّصَالٌ وَ مَسٌّ، وَ الْمِغْنَاطِيْسُ يَجْذِبُ الْحَدِيْدَ مَعَ عَدَمِ اتِّصَالِهِ وَ عَدَمِ خُرُوْجِ شَيْءٍ مِنْهُ يُوْجِبُ صُدُوْرَ التَّأْثِيْرُ عَنْهُ، بَلِ الْأُمُوْرُ اللَّطِيْفَةُ أَعْظَمُ آثَارًا مِنَ الْأُمُوْرِ الْكَثِيْفَةِ، فَإِنَّ الْأُمُوْرَ الْجَسِيْمَةَ إِنَّمَا تَصْدُرُ مِنَ الْإِرَادَةِ وَ النِّيَّةِ، وَ هِيَ مِنَ الْأُمُوْرِ الْمَعْنَوِيَّةِ. فَلَا يُسْتَغْرَبُ حِيْنَئِذٍ أَنْ تُؤَثِّرَ الْعَيْنُ فِي الْمَنْظُوْرِ إِلَيْهِ مَعَ لَطَافَتِهَا وَ عَدَمِ اتِّصَالِهَا بِهِ وَ عَدَمِ خُرُوْجِ شَيْءٍ مِنْهَا.
Soal: Bagaimanakah mata mempunyai pengaruh, padahal mata itu hanya termasuk bagian badan manusia yang lembut dan tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang dilihat, dan tidak ada sesuatu yang keluar dari mata itu yang berhubungan dengan sesuatu yang dilihat?
Jawab: Tidak ada yang mengahalangi jika sesuatu yang lembut itu mempunyai pengaruh yang kuat, dan tidak diisyaratkan bahwa adanya pengaruh itu harus ada hubungannya, karena sesungguhnya kita lihat sebagian manusia yang mempunyai kewibawaan dan kekuasaan bila melihat kepada seseorang dengan pandangan yang mengandung amarah, kadang-kadang menyebabkan yang dipandang itu ketakutan dan gemetar, malah bisa menyebabkan kematiannya. Padahal pada lahirnya ia tidak memasukkan sesuatu pada yang dilihatnya dan tidak terjadi antara yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi hubungan ataupun sentuhan.
Kalau magnit mempunyai kekuatan dapat menarik besi padahal tidak ada hubungan antara magnit dan besi yang ditariknya itu dan tidak keluar sesuatu yang dapat menyebabkan menariknya itu.
Bahkan benda-benda yang lembut lebih besar pengaruhnya daripada benda-benda yang kasar. Karena sesungguhnya perkara-perkara yang besar adalah timbul dari kuatnya kehendak dan niat, sedangkan kehendak dan niat itu termasuk hal yang tidak tampak.
Maka tidak mengherankan kalau mata mempunyai pengaruh terhadap yang dipandangnya sekalipun mata itu sangat lembut, dan tidak ada hubungan atau sesuatu yang keluar dari mata itu.
س: مَنْ أَفْضَلُ الْأُمَمِ جَمِيْعًا بَعْدَ الْأَنْبِيَاءِ (ع)؟
ج: أَفْضَلُ الْأُمَمِ جَمِيْعًا بَعْدَ الْأَنْبِيَاءِ هِيَ الْأُمَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ، وَ أَفْضَلُهَا الصَّحَابَةُ الْكِرَامُ، وَ هُمُ الَّذِيْنَ اجْتَمَعُوْا بِنَبِيِّنَا عَلِيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ وَ آمَنُوْا بِهِ، وَ اتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْ أُنْزِلَ مَعَهُ، وَ أَفْضَلُهُمُ الْخُلَفَاءُ الْأَرْبَعَةُ.
Soal: Umat manakah yang lebih utama sesudah para nabi a.s.?
Jawab: Umat yang lebih utama sesudah para nabi a.s. umat Muḥammad. Dan seutama-utama umat Muḥammad ialah para sahabat Nabi yang mulia. Mereka itulah orang-orang yang langsung bertemu dengan Nabi Muḥammad SAW dan beriman kepadanya. Dan seutama-utamanya para sahabat Nabi ialah empat khalifah (Abū Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Alī).
س: مَا الْإِسْرَاءُ وَ الْمِعْرَاجُ؟
ج: الْإِسْرَاءُ هُوَ سِيْرُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ مِنْ مَسْجِدِ مَكَّةَ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى فِي الْقُدْسِ فِيْ لَيْلَةٍ. وَ هذَا ثَابِتٌ بِنَصِّ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ. وَ الْمِعْرَاجُ هُوَ صُعُوْدُهُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى إِلَى السَّموَاتِ وَاجْتِمَاعُهُ بِالْمَلَلأِ الْأَعْلَى تَشْرِيْفًا لَهُمْ بِهِ، وَ إِكْرَامًا لَهُ. وَ قَدْ ثَبَتَ ذلِكَ بِالْأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ، وَ هذَا أَمْرٌ مُمْكِنٌ أَخْبَرَ بِهِ الصَّادِقُ فَيَجِبُ حَمْلُهُ عَلَى ظَاهِرِهِ، وَ لَا يُسْتَغْرَبُ مِمَّنْ سَيَّرَ الطَّيْرَ فِي الْهَوَاءِ، وَ جَعَلَ الْكَوَاكِبَ تَقْطَعُ بِحَرَكَتِهَا فِيْ دَقِيْقَةٍ مَسَافَةً لَا يَقْطَعُهَا النَّاسُ فِيْ مِائَةِ عَامٍ، أَنْ يَرْفَعَ إِلَى السَّمَاءِ فِيْ سَاعَةٍ حَبِيْبَهُ الَّذِي اصْطَفَاهُ عَلَى الْأَنَامِ، فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَ بِكُلِّ شَيْءٍ خَبِيْرٌ.
Soal: Apakah yang dimaksud “Isra’” dam “Mi‘raj” itu?
Jawab: Isra’ ialah perjalanan Nabi Muḥammad SAW dari Masjid-il-Ḥaram di Makkah, ke Masjid-il-Aqsa, di Palestina. Hal ini telah termaktub dalam al-Qur’an-ul-Karīm. Mi‘raj ialah naiknya Nabi Muḥammad SAW pada malam itu dari Masjid-il-Aqsha ke langit dan berkumpul dengan Malaikat dan para nabi untuk penghormatan bagi mereka dan untuk memuliakan Nabi.
Dan hal itu telah ditetapkan berdasarkkan Hadits shaḥīḥ. Hal ini adalah perkara yang mungkin terjadi yang telah diberitahukan oleh seorang nabi yang selalu benar, yakni Nabi Muḥammad SAW Oleh karena itu, Isra’ dan Mi‘raj harus diartikan menurut lahirnya. Dan tidak aneh bahwa Tuhan yang telah menjalankan burung di udara, menjadikan bintang-bintang bergerak cepat dalam tiap detik, sehingga tidak dapat ditempuh oleh manusia dalam seratus tahun, maka Dia mengangkat ke hadirat-Nya seorang yang dikasihi dan telah dipilih melebihi sekalian manusia, ke langit dalam waktu sekejap. Karena Allah berkuasa atas segala sesuatu dan dengan segala sesuatu, Dia Maha Waspada.
س: هَلْ يَنْفَعُ الدُّعَاءُ الدَّاعِيَ أَوِ الْمَدْعُوَّ لَهُ، وَ هَلْ يَصِلُ ثَوَابُ صَدَقَةُ الْحَيِّ إِلَى الْمَيِّتِ إِذَا أُهْدِيَ لَهُ ذلِكَ؟
ج: إِنَّ الصَّدَقَةَ أَمْرٌ مَرْغُوْبٌ، وَ الدُّعَاءُ وَ التَّضَرُّعُ إِلَى اللهِ تَعَالَى مَطْلُوْبٌ، وَ كِلَاهُمَا نَافِعٌ عَنْدَهُ تَعَالَى لِلْحَيِّ وَ الْمَيِّتِ.
Soal: Apakah doa itu bermanfaat kepada orang yang berdoa atau kepada orang yang didoakan. Dan apakah pahala sedekah orang yang hidup dapat sampai kepada mayit apabila dihadiahkan kepadanya?
Jawab: Sesungguhnya sedekah itu perkara yang disenangi, doa dan memohon kepada Allah adalah diperintahkan. Keduanya bermanfaat di sisi Allah kepada orang yang masih hidup dan orang yang sudah mati.
س: هَلْ نَعِيْمُ الْجَنَّةِ رُوْحَانِيٌّ أَمْ جِسْمَانِيٌّ وَ كَذلِكَ عَذَابُ النَّاسِ كَيْفَ هُوَ وَ هَلْ هُمَا دَائِمَانِ أَمْ يَنْقَطِعَانِ؟
ج: إِنَّ الْجَنَّةَ تَشْتَمِلُ عَلَى النَّعِيْمَيْنِ: الرُّوْحَانِيُّ وَ الْجِسْمَانِيُّ. فَالرُّوْحَانِيُّ لِتَلَذُّذِ الرُّوْحِ: كَالتَّسْبِيْحِ وَ الْعِبَادَةِ، وَ الْجِسْمَانِيُّ لِتَلَذُّذِ الْجِسْمِ: كَالْأَكْلِ وَ الشَّرْبِ، وَ النَّارُ تَشْتَمِلُ عَلَى الْعَذَابِ الْجِسْمَانِيِّ وَ الْعَذَابِ الرُّوْحَانِيِّ. وَ النَّعِيْمُ وَ الْعَذَابُ فِيْهِمَا دَائِمٌ، لَا يَنْقَطِعُ أَبْدًا، وَ أَهْلُوْهُمَا خَالِدُوْنَ فِيْهِمَا، وَ هُمَا مُوْجُوْدَتَانِ الْآنَ.
Soal: Apakah kenikmatan surga mengenai rohani ataulah jasmani?
Jawab: Sesungguhnya surga itu mengandung dua kenikmatan, yaitu kenikmatan rohani dan jasmani. Kenikmatan rohani untuk kelezatan ruh, seperti: membaca tasbih, beribadah, dan melihat Allah SWT, dan pemberitahuan Allah bahwa mereka diridhai. Adapun kenikmatan jasmani adalah untuk kelezatan badan, seperti, makan, minum, dan nikah.
Neraka juga mengandung siksaan jasmani dan rohani, selamanya tidak ada putus-putusnya, dan ahli neraka itu kekal di dalamnya. Surga dan Neraka itu sudah ada sekarang ini.
س: هَلْ يَبْلُغُ الْوَلِيُّ دَرَجَةَ النَّبِيِّ، وَ هَلْ يَصِلُ إِلَى حَالَةٍ تَسْقُطُ عَنْهُ التَّكَالِيْفُ عِنْدَهَا؟
ج: لَا يَبْلُغُ الْولِيُّ دَرَجَةَ نَبِيٍّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ أَصْلًا، وَ لَا يَصِلُ الْعَبْدُ مَا دَامَ عَاقِلًا بَالِغًا إِلَى حَيْثُ يَسْقُطُ عَنْهُ الْأَمْرُ وَ النَّهْيُ، وَ يُبَاحُ لَهُ مَا شَاءَ، وَ مَنْ زَعَمَ ذلِكَ كَفَرَ، وَ كَذلِكَ يَكْفُرُ مَنْ زَعَمَ أَنَّ لِلشَّرِيْعَةِ بَاطِنًا يُخَالِفُ ظَاهِرَهَا هُوَ الْمُرَادُ بِالْحَقِيْقَةِ. فَأَوَّلَ النُّصُوْصَ الْقَطْعِيَّةَ، وَ حَمَلَهَا عَلَى غَيْرِ ظَوَاهِرِهَا كَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْمَلَاءِكَةِ الْقَوَى الْعَقْلِيَّةُ، وَ بِالشَّيَاطِيْنِ الْقُوَى الْوَهْمِيَّةُ.
Soal: Apakah wali itu dapat mencapai derajat nabi? dan apakah wali itu sampai kepada suatu martabat sehingga tidak diperintahkan menjalankan syari‘at agama?
Jawab: Sama sekali wali tidak sampai kepada derajat nabi. Dan hamba yang sudah baligh dan berakal, ia tidak akan sampai kepada suatu martabat yang membebaskan untuk menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan, dan boleh berbuat semaunya. Barang siapa yang mempunyai anggapan seperti itu, berarti ia telah kafir. Dan termasuk kafir pula orang yang mengira bahwa sesungguhnya syari‘at agama itu berbeda antara pengertian lahir dan bathinnya, sedangkan yang bathin itulah yang sebenarnya dimaksudkan. Kemudian membelokkan ta’wīl-an nash-nash yang qath‘i kepada arti yang bukan sebagaimana arti zhahir-nya. Seperti orang yang mengira bahwa yang dimaksud malaikat itu ialah kekuatan akal dan yang dimaksud syaithan ialah kekuatan prasangka yang keliru.
س: مَا الْمُجْتَهِدُ، وَ مَنِ الْمُجْتَهِدُوْنَ الَّذِيْنَ اسْتَقَرَّ الرَّأْيُ عَلَى اتِّبَاعِهِمْ؟
ج: الْمُجْتَهِدُ: هُوَ الْمُحِيْطُ بِمُعْظَمِ قَوَاعِدَ الشَّرِيْعَةِ وَ نُصُوْصِهَا. الْمُمَارِسُ لَهَا، بِحَيْثُ اكْتَسَبَ قُوَّةً يَفْهَمُ بِهَا مَقْصُوْدَ الشَّارِعِ وَ الْمُجْتَهِدُوْنَ كَثِيْرُوْنَ، وَ الْمُجْتَهِدُوْنَ الَّذِيْنَ اسْتَقَرَّ الرَّأْيُ عَلَى اتِّبَاعِهِمْ، وَ الْأَخْذُ بِقَوْلِهِمْ، أَرْبَعَةٌ وَ هُمْ: أَبُوْ حَنِيْفَةَ النُّعْمَانُ بِنُ ثَابِتٍ. وَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، وَ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيُّ، وَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، وَ إِنَّمَا اخْتَارَ الْعُلَمَاءُ تَقْلِيْدَ هؤُلَاءِ الْأَرْبَعَةِ دُوْنَ غَيْرِهِمْ مِمَّنْ بَلَغَ دَرَجَةَ الْاجْتِهَادِ لِكَثْرَةِ مَا اسْتَنْبَطُوْهُ مِنَ الْمَسَائِلِ لِسَبَبِ تَفَرُّغِهِمْ لِذلِكَ حَتَّى نَدَرَتِ الْقَضَايَا الَّتِيْ لَمْ يُبَيِّنُوْا حُكْمَهَا وَ لِنَقْلِ مَذَاهِبِهِمْ إِلَيْنَا بِطَرِيْقِ التَّوَاتُرِ فَيَنْبَغَيْ تقْلِيْدُ وَاحِدٍ مُعَيَّنٌ مِنْهُمْ إِلَّا لِلضُّرُوْرَةِ وَ إِلَّا فَرُبَّمَا أَدَّى إِلَى تَلْفِيْقٍ يَخْرُجُ عَنْ سَوَاءِ الطَّرِيْقِ.
Soal: Apakah yang dimaksud mujtahid itu, dan siapakah para mujtahid yang telah ditetapkan bahwa pendapat mereka harus diikuti?
Jawab: Mujtahid ialah orang yang pemahamannya meliputi sebagian besar kaidah-kaidah syari‘at dalil-dalil nash hingga mempunyai kekuatan untuk dapat memahami maksud-maksud pembawa syari‘at (Rasūl). Adapun para mujtahid itu banyak. Dan yang ditetapkan kalau pendapat mereka harus diikuti, dan berpegangan kepada pendapat mereka ialah empat mujtahid:
1. Abū Ḥanīfah an-Nu‘man bin Tsabit
2. Malik bin Anas
3. Muḥammad bin Idrīs asy-Syafi‘ī
4. Aḥmad bin Ḥanbal r.a.
Sebenarnya para ulama memilih untuk mengikuti empat Imam tersebut sedangkan kepada yang lainnya tidak, sekalipun telah mencapai martabat ijtihad, hanyalah karena banyaknya perkara yang telah mereka istinbath-kan, hingga jarang sekali (ada) masalah yang belum mereka tetapkan hukumnya. Dan juga karena pendapat-pendapat mereka telah sampai kepada kita dengan jalan mutawatir.
Maka, sebaiknya orang mengikuti salah seorang dari yang tersebut itu, kecuali karena darurat, kalau tidak dikhawatirkan akan terjadi pencampur-adukan antara pendapat mereka itu, yang akan mengeluarkan orang dari jalan yang lurus.
س: لِمَ اخْتَلَفَ الْمُجْتَهِدُوْنَ فِيْ بَعْضِ الْمَسَائِلِ؟
ج: إِنَّ الْمُجْتَهِدِيْنَ لَمْ يَخْتَلِفُوْا فِيْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَ لَا فِيْ أُمَّهَاتِ فُرُوْعِهِ أَصْلًا لِثُبُوْتِهَا بِالدَّلَالَةِ الْقَطْعِيَّةِ. وَ إِنَّمَا اخْتَلَفُوْا فِيْ بَعْضِ الْمَسَائِلِ الْفَرْعِيَّةِ لِعَدَمِ ثُبُوْتِ نَصٍّ قَطْعِيٍّ فِيْهَا إِذَا الْجُزْئِيَّاتُ لَا يَتَيَسَّرُ حَصْرَهَا وَ الْاِخْتِلَافُ فِيْهَا سَهْلٌ فَكُلٌّ مِنْهُمْ بَذَلَ وُسْعَهُ فِي اسْتِخْرَاجِ حُكمِهَا مِنَ الْكِتَابِ وَ السُّنَّةِ بِحَسْبِ مَا ظَهَرَ لَهُ، فَمَنْ أَصَابَ مِنْهُمْ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَ مَنْ أَخْطَأَ مِنْهُمْ فَلَهُ أَجْرٌ، لِسَعْيِهِ فِيْ إِظْهَارِ الصَّوَابِ بِقَدْرِ وُسْعِهِ وَ اخْتِلَافُ الْإِئِمَّةِ رَحْمَةٌ لِلْأُمَّةِ لِأَنَّهُ اخْتِلَافٌ فِيْ أُمُوْرٍ فَرْعِيَّةٍ وَ اخْتِلَافُ فِيْهَا يُوْجَبُ الْيُسْرَ عَلَى النَّاسِ وَ عَدَمِ وُقُوْعِهِمْ فِي الْحَرَجِ وَ الْيَأْسِ فَإِذَا اضْطُرَّ الْإِنْسَانُ عَمِلَ بِمَا هُوَ الْأَيْسَرُ، وَ إِلَّا فَيَعْمَلُ بِمَا هُوَ الْأَحْوَطُ وَ الْأَحْرَى وَ الْأَظْهَرُ.
Soal: Mengapa para mujtahid berselisih dalam beberapa masalah?
Jawab: Sesungguhnya para mujtahid itu tidaklah berselisih dalam pokok-pokok agama (ushūl-ud-dīn) dan tidak pula dalam induk dari cabang urusan agama, karena telah ada dalil yang pasti. Dan sebenarnya mereka itu berselisih hanyalah dalam sebagian masalah-masalah cabang, karena tidak ada dalil nash yang pasti di dalamnya. Sebab sebagian hukum yang kecil-kecil tidak mudah menghimpun seluruhnya, sedangkan perbedaan dalam hal-hal yang tersebut adalah mudah terjadinya.
Oleh karena itu, tiap mujtahid mencurahkan pikirannya untuk mengeluarkan hukum dari al-Qur’an dan Sunnah sekedar apa yang dapat ditemui. Maka, seorang mujtahid yang benar dalam ijtihadnya, ia memperoleh dua pahala. Dan mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya, ia hanya memperoleh satu pahala, karena ia telah berusaha dengan sungguh-sungguh guna mencapai kebenaran sesuai kemampuan dirinya.
Perselisihan paham para Imam itu adalah suatu rahmat bagi umat, disebabkan perbedaan yang terjadi hanya dalam masalah-masalah furū‘ (cabang agama). Dan perselisihan pendapat semacam itu meringankan kepada umat manusia, dan mereka tidak merasa sempit dan kesukaran. Maka apabila keadaan memaksa, ia bisa mengamalkan pendapat yang lebih ringan. Dan bila keadaan tidak memaksa, ia mengamalkan yang lebih hati-hati dan yang lebih jelas dalilnya.
س: مَا أَشْرَاطُ السَّاعَةِ؟
ج: أَشْرَاطُ السَّاعَةِ (الْعَلَامَةُ الدَّالَّةُ عَلَى قُرْبِ قِيَامِهَا جَدًّا) أُمُوْرٌ مِنْهَا الدَّجَّالُ وَ هُوَ رَجُلٌ أَعْوَرُ فِيْ خِفَّةٍ مِنَ الدِّيْنِ وَ إِدْبَارٍ مِنَ الْعِلْمِ وَ يَدَّعِي الْأُلُوْهِيَّةَ وَ يُظْهِرُ بَعْضِ الْعَجَائِبِ وَ يِتَّبِعُهُ مَنْ كَانَ ضِعِيْفَ الْإِيْمَانِ وَ الْيَقِيْنِ. وَ مِنْهَا ظُهُوْرُ دَابَّةٍ مِنَ الْأَرْضِ تُعَلِّمُ النَّاسَ فِيْ وُجُوْهِهِمْ، فَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا جَعَلَتْ لَهُ عَلَامَةً يُعْرَفُ بِهَا أَنَّهُ مُؤْمِنٌ. وَ مَنْ كَانَ كَافِرًا جَعَلَتْ لَهُ عَلَامَةً يُعْرَفُ بِهَا أَنَّهُ كَافِرٌ. وَ تُكَلِّمُ النَّاسَ بِأَحْوَالِهِمْ. وَ مِنْهَا طُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنَ الْمَغْرِبِ يَوْمًا مِنَ الْأَيَّامِ وَ يَنْسَدُّ حِيْنَئِذٍ بَابُ التَّوْبَةِ وَ لَا تُقْبَلُ مِنْ أَحَدٍ. وَ مِنْهَا خُرُوْجُ يَأْجُوْجَ وَ مَأْجُوْجَ وَ هُمْ جِيْلٌ مِنَ النَّاسِ أَكْثَرُوا الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ فِي الزَّمَنِ الْغَابِرِ. وَ لَمَّا وَصَلَ إِلَى نَاحِيَتِهِمْ ذُو القَرْيَتَيْنِ شَكَا مِنْهُمْ جِيْرَانُهُمْ إِلَيْهِ. فَرَثَى لِحَالِهِمْ وَ كَانَ الْمُوَصِّلَ بَيْنَهُمْ مَضِيْقٌ بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَبَنَى فِيْهِ سَدًّا عَالِيًا جِدًّا مِنْ حَدِيْدٍ وَ أَفْرَغَ عَلَيْهِ الرَّصَاصَ الْمُذَابَ فَصَارَ سَدًّا مُحْكَمًا أَمْلَسَ لَا يَتَيَسَّرُ نَقبُهُ وَ لَا الصُّعُوْدُ عَلَيْه فَإِذَا حَانَ أَوَانُ خُرُوْجِهِمْ انْفَتَحَ السَّدُّ بِسَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ فَيَنْتَشِرُوْنَ فِي الْأَرْضِ وَ يَكُثُرُ فَسَادُهُمْ فِيْ طُوْلِهَا وَ الْعَرْضِ. فَيُلْجَأُ إِلَى مَوْلَاهُمْ فِيْ رَفْعِ شَرِّهِمْ وَ ضَرَرِهِمْ فَيُهْلِكُهُمْ وَ يَقْضِيْ بِمَحْوِ أَثَرِهِمْ. وَ مِنْهَا نُزُوْلُ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ ذلِكَ حِيْنَ مَا تَكْثُرُ فِي الْمُسْلِمِيْنَ الْفِتَنُ وَ تَتَوَالَى عَلَيْهِمُ الْمِحَنُ، فَيَتَوَلَّى أُمُوْرَ هذِهِ الْأُمَّةِ، وَ يَكْشِفُ عَنْهُمْ كُلَّ مِلَّةٍ، وَ يَقْتُلُ الدَّجَّالَ. وَ يُخَلِّصُ النَّاسَ مِنَ الْأَهْوَاءِ وَ الْأَهْوَالِ.
Soal: Apakah tanda-tanda yang menunjukkan sangat dekat akan tibanya hari kiamat?
Jawab: Tanda-tanda yang menunjukkan dekatnya hari kiamat itu ada beberapa perkara. Termasuk dari tanda-tanda itu adalah munculnya Dajjal. Ia seorang laki-laki yang bermata satu (buta sebelah). Ia keluar untuk meremehkan agama, membelakangi ilmu, mengaku menjadi Tuhan. Dan ia memperlihatkan beberapa keajaiban, dan orang-orang yang lemah iman dan keyakinannya maka akan mengikuti jejak langkanya.
Tanda-tandanya yang lain ialah munculnya seekor binatang dari bumi yang memberitahu kepada manusia tentang muka-muka mereka. Maka bagi orang yang mu’min, akan diberi tanda yang dapat dikenal bahwa ia adalah orang yang mu’min. Dan kalau orang yang kafir maka binatang tadi memberi tanda yang dapat dikenal bahwa orang itu adalah orang yang kafir. Dan binatang itu dapat berbicara dengan manusia mengenai hal-ihwal mereka.
Juga termasuk tanda-tandanya ialah: Terbitnya matahari dari arah barat. Dan pada hari itu pintu tobat sudah ditutup, dan tidak diterima tobat dari seorangpun.
Tanda lainnya ialah keluarnya Ya’jūj dan Ma’jūj. Mereka itulah sekelompok manusia yang banyak berbuat kerusakan di bumi pada masa yang lalu. Dan setelah Zulqarnain datang ke arah mereka, tetangga-tetangga mereka mengadukan kepadanya. Maka ia melihat mereka itu berada di antara dua gunung yang sempit. Kemudian ia mendirikan benteng yang sangat tinggi dari besi yang dituangkan di atasnya timah yang dicairkan, maka dinding itu menjadi kuat, sehingga tidak mudah menembusnya dan menaikinya. Ketika telah sampai saatnya mereka keluar, maka benteng itupun menjadi terbuka karena sesuatu sebab, kemudian mereka menyebar dimuka bumi, dan lebih banyak lagi berbuat kerusakan.
Maka diserahkanlah urusan mereka itu kepada Tuhan untuk dapat memusnahkan keburukan dan bahaya yang mereka perbuat. Akhirnya Allah membinasakan mereka dan lenyaplah bekas-bekas mereka. Dan tanda-tandanya yang lain lagi ialah ketika banyak fitnah yang menimpa kaum muslimin, dan mereka berturut-turut menghadapi ujian Tuhan, maka nabi ‘Īsa turun. Kemudian ia menguasai perkara umat dan menghilangkan dari mereka dari segala bahaya. Nabi ‘Īsa membunuh Dajjal dan membebaskan mereka dari pengaruh hawa nafsu dan malapetaka.
س: مَنِ السَّعِيْدُ؟
ج: السَّعِيْدُ: هُوَ الْمُتَّبِعُ لِلشَّرِيْعَةِ ظَاهِرًا وَ بَاطِنًا. الْمُعْرِضُ عَنْ زَخَارِفِ هذِهِ الدَّارِ. فَهُوَ صَاحِبُ السَّعَادَةِ وَ مَنْ لَهُ الْحُسْنَى وَ زِيَادَةٌ. نَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى أَنْ يُوَفِّقَنَا لِذلِكَ وَ يَجْعَلَنَا مِنَ السَّاكِيْنَ فِيْ أَحْسَنِ الْمَسَالِكِ. وَ الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ. وَ عَلَى أَشْرَفِ أَنْبِيَائِهِ أَزْكَى التَّحِيَّاتِ.
Soal: Siapakah orang yang berbahagia itu?
Jawab: Orang yang berbahagia ialah orang mu’min yang saleh yang melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak manusia, yang mengikuti syari‘at agama, lahir dan bathin, yang berpaling dari tipu muslihat dunia. Dialah orang yang memiliki kebahagian dan orang yang mendapati kebaikan dan kelebihan. Kita memohon, semoga Allah SWT memberi taufiq kepada kita, dan menjadikan kita tergolong orang-orang yang menempuh jalan yang baik. Dan segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya dapat sempurna kebaikan, dan mudah-mudahan kehormatan yang suci tetap ditujukan kepada semulia-mulia nabi-Nya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar